Bulog NTB Berencana Menyerap Beras Petani Senilai Rp1,194 Triliun Tahun 2024
Mataram (netlombok)-
Perum Bulog Wilayah NTB mengusulkan akan menyerap sebanyak 120.000 ton beras petani pada tahun 2024 ini. Volume serapan yang akan diusulkan ini jika dirupiahkan setara nilainya dengan Rp1,194 triliun.
Target serapan beras/gabah Bulog akan final setelah dilakukan rapat koordinasi Perum Bulog seluruh Indonesia. Wakil Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Ismed Erlando mengatakan, saat ini Bulog tengah mempersiapkan untuk menggelar rapat koordinasi tahunan.
“Target serapan sih belum turun dari Bulog pusat. Target bisa ditetapkan setelah Rakor. Tapi kita di NTB akan mengusulkan serapan beras sebesar 120.000 ton tahun 2024 ini,” katanya.
Target serapan beras sebesar 120.000 ton ini setara dengan 120 juta Kg. Jika 1 Kg beras harga sebagaimana ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp9.950. Atau jika Bulog menyerap dalam bentuk gabah dengan HPP Rp6.300/Kg GKG (Gabah Kering Giling), maka besarnya dana yang akan digunakan untuk belanja beras di NTB tahun 2024 ini sebesar Rp1,194 triliun.
“Kalau targetnya sebesar 120.000 ton beras diserap, dan tercapai target ini, maka Bulog akan belanja hampir Rp1,2 triliun di NTB. Ini belanja yang tidak kecil kepada petani. Sebesar ini uang yang akan bergerak di NTB, hanya dari Bulog saja,” ujarnya.
Rencana usulan target pembelian beras/gabah ini lebih rendah dari target tahun 2023 sebesar 155.000 ton. Kata Ismed, penurunan target ini karena proyeksi masa panen yang mundur karena mundurnya masa tanam akibat cuaca ekstrem.
“Panen tahun ini bisa mundur April, Mei, kalau sebelumnya puncak panen pada Maret dan April. Selain puncak panen, Bulog biasanya masih bisa membeli pada Bulan Oktober, November. Tapi panennya mundur, pembelian pada akhir tahun ini bisa mundur ke tahun berikutnya lagi. Makanya usulan target ini kita sesuaikan,” terangnya.
Ismed menambahkan, Provinsi NTB adalah salah satu provinsi lumbung pangan. Karena itu, produksi pangan tahun ini juga diharapkan tetap optimal. Didukung oleh cuaca dan ketersediaan sumber daya air yang memadai. Dengan produksi padi yang optimal, tentu Bulog juga dapat melakukan serapan padi/gabah secara optimal untuk mendukung stabilitas harga dan cadangan pangan di dalam negeri.
Terpisah, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB menargetkan produksi padi tahun 2024 sebesar 1,4 juta ton, naik dari target produksi padi tahun 2023 sebesar 1,3 juta ton.
Untuk mencapai target produksi padi tahun ini, beberapa upaya yang akan dilakukan diantaranya, sistem budidaya yang baik dengan penggunaan sarana produksi yang baik antara lain penggunaan varietas unggul oleh petani, penggunaan pupuk berimbang, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan.
Upaya lainnya adalah pendampingan oleh petugas yaitu penyuluh, petugas pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, pengawas benih tanaman. Dan harga produksi di tingkat petani bagus sehingga petani menjadi lebih bersemangat menanam padi.(DLN)



