Bank Indonesia Proyeksikan Inflasi NTB Tahun 2023 Sesuai Target Nasional
Lombok (netlombok)-
Tekanan inflasi Provinsi NTB pada tahun 2023 diprakirakan akan lebih rendah dibandingkan tahun 2022, berpotensi kembali ke rentang target inflasi nasional 3%± 1% (yoy). Komoditas pangan diprakirakan masih akan mengalami tekanan meski cenderung melandai dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam upaya pengendalian inflasi, Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan sinergi dan koordinasi intensif, serta mengoptimalkan langkah-langkah pengendalian melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di Provinsi NTB.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji, Senin (13/3/2023) menjelaskan, kondisi ekonomi Provinsi NTB tahun 2022 tercatat mengalami pertumbuhan 6,95% (yoy), meningkat dibandingkan tahun 2021 yang hanya tumbuh 2,30% (yoy).
Pada sisi pengeluaran, secara khusus peningkatan didorong oleh perbaikan kinerja konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor luar negeri.
Pelonggaran kebijakan PPKM seiring dengan pandemi yang semakin terkendalitelah mendorong pemulihan ekonomi secara gradual. Meskipun PPKM kembali diperketat pada triwulan I 2022 seiring dengan peningkatan kasus Covid-19 akibat meluasnya varian omicron, aktivitas ekonomi terus berjalan dengan didukung oleh vaksinasi yang terus dilakukan secara masif.
Secara keseluruhan tahun 2022, aktivitas perekonomian menunjukkan peningkatan kinerja dibandingkan tahun 2021. Meskipun demikian, pertumbuhan yang lebih tinggi relatif tertahan oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tercatat mengalami kontraksi di tahun 2022 sejalan dengan penurunan investasi bangunan akibat telah diselesaikannya pengerjaan mayoritas proyek strategis pada tahun 2021.
Lanjut Heru Saptaji, peningkatan ekonomi Provinsi NTB secara signifikan pada tahun 2022 turut didukung oleh kinerja Lapangan Usaha (LU) utama. Hal ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat akibat pelonggaran pembatasan sosial dan mobilitasseiring pandemi yang semakin terkendali dan vaksinasi yang dilakukan secara masif.
Selain itu, base effect tahun 2021 yang masih relatif rendah turut mendorongpertumbuhan tahun 2022 menjadi lebih tinggi. Namun, searah dengan penurunan investasi bangunan, kinerja LU Konstruksi tercatat mengalami kontraksi sehingga sedikit menahan perbaikan kinerja lapangan usaha.
Adapun pertumbuhan PDRB di luar LU Pertambangan tahun 2022 tumbuh sebesar 3,42% (yoy), meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 3,36% (yoy). Searah dengan laju pertumbuhan ekonomi,tekanan inflasitahun 2022 juga relatif mengalami peningkatan yang signifikan.
Inflasi gabungan kota di Provinsi NTB tahun 2022 mencapai 6,23% (yoy), meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2,12% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi keseluruhan tahun 2022 utamanya dipengaruhi oleh Kelompok Transportasi serta Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau.
Kenaikan inflasi Kelompok Transportasi dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM non subsidi dan peningkatan tarif angkutan udara sejalan dengan normalisasi operasi maskapai penerbangan serta tingkat permintaan yang meningkat.
Sementara itu, inflasi Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau secara utama disumbang oleh komoditas rokok kretek filter sebagai dampak dari kenaikan tarif cukai pada awal tahun 2022, komoditas beras akibat intensitas pengiriman beras ke luar daerah yang cukup tinggi dan kenaikan permintaan pada periode HBKN, serta kenaikan harga telur ayam ras yang didorong oleh adanya kenaikan biaya produksi sebagai dampak kenaikan harga pakan unggas.
Lebih lanjut, meningkatnya tekanan inflasi juga turut dipengaruhi oleh kenaikan permintaan komoditas makanan utamanya dari segmen hotel, restoran, dan kafe (horeka) sejalan dengan peningkatan aktivitas pariwisata, serta adanya peningkatan permintaan untuk bansos non-tunai (sembako).
Sementara di sisi lain, kapasitas produksi masih belum sepenuhnya pulih pasca pandemi. Tren pertumbuhan ekonomi yang positif diprakirakan akan terus berlanjut pada tahun 2023 dan tumbuh pada kisaran 4,9% – 5,7% (yoy).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan utamanya ditopang oleh peningkatan kinerja PMTB seiring dengan progress pembangunan smelter perusahaan tambang di Kabupaten Sumbawa Barat serta ekspektasi perbaikan kinerja investasi sektor swasta lain sejalan dengan kondisi pandemi yang secara gradual bertransisi menjadi endemi.
Sejalan dengan optimisme peningkatan PMTB, kinerja Konsumsi Rumah Tangga juga diprakirakan masih akan mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi.
Dari sisi LU, pertumbuhan utamanya akan ditopang oleh peningkatan kinerja LU Perdagangan seiring dengan mobilitas yang semakin membaik sehingga mendorong peningkatan aktivitas ekonomi dan pariwisata di Provinsi NTB. Selain itu, LU Konstruksi juga diprakirakan akan mencatatkan pertumbuhan yang relatif tinggi dengan adanya proyek smelter.(DLN)



