Tujuh Desa akan jadi Pilot Project Desa Industri
Mataram (netlombok) –
Provinsi NTB akan mengembangkan desa industri, sebagai lanjutan dari program perioritas industrialisasi.
Kepala Dinas Perindustrian Nuryanti, S.E., M.E juga sudah menggelar rapat bersama Akademisi dan Saintis Indonesia Wilayah NTB (ASASI) ibu Dr. Teti Zubaidah, selaku ketua ASASI wilayah NTB, perwakilan dari BRIN dan beberapa representasi kepala Desa se-NTB antara lain Kades Darmaji, Kades Senggigi, Kades Gapuk, Kades Mamben, Kades Semoyang, Kades Grimax, dan Kades Buwun Sejati pada Senin (28/8) kemarin di Aula Halal Industrial Park Dinas Perindustrian NTB.
Nuryanti menyampaikan, industrialisasi adalah bagian dari proses modernisasi di mana perubahan sosial dan perkembangan ekonomi erat hubungannya dengan inovasi atau pembaharuan. Pemerintah NTB melalui Dinas Perindustrian sudah mulai mengembangkan berbagai terobosan terkait industrialisasi ini.
Kemudian ada gagasan baru untuk membuat “Desa Industri”. Desa industri yang dimaksud ialah, desa mampu memanfaatkan dan memberdayakan hingga menciptakan pembaharuan dari potensi masing-masing desa yang bisa dimanfaatkan kedalam hal baru hingga ada daya tarik bagi konsumen yang bernilai.
Nuryanti juga menjelaskan tentang desanomics yang menjadi jembatan menuju penciptaan komunitas pembaharuan berbasis lokasi fisik atau non fisik hingga edukasi, khususnya desa, sebagai landasan perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Desanomics sebagai jalan kolaborasi komunitas hingga masyarakat pada umunya perdesaan sosial DKM, Pesantren, Koperasi, BUMDes, dan Pemdes untuk mereposisi desa menjadi basis ekonomi pangan halal yang berkemajuan.
“Industrialisasi adalah terobosan baru di Nusa Tenggara Barat. Industrialisasi tidak semata-mata membangun gedung megah atau pabrik besar, melainkan industrialisasi yang digaungkan di NTB ini adalah mulai dari sederhana, dari sesuatu yang tidak bernilai bisa menjadi hal luar biasa yang bisa dimanfaatkan kedalam hal baru. Maka dari itu kami ingin memulai semua itu dari desa yang kami sebut yaitu Desa Industri atau Desanomics. Desanomics merupakan seruan bagi gerakan Bela Desa, Desanomics bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan uang dari orang lain, melainkan tentang mendapatkan kepercayaan dari penduduk setempat di komunitas tempat calon pengusaha pemula hadir. Bagaimana kita bisa menciptakan pasar baru bagi para masyarakat ataupun para UMKM di desa,” paparnya.
Langkah konkret atau Upaya pemerintah untuk mewujdukan desa industry dan desanomics ini ialah dengan memulai bekerja sama dengan semua pihak salah satunya ialah perangkat desa.
Melakukan tahapan survey desa-desa hingga menata Kelola apa yang menjadi potensi hingga daya jual masing-masing desa untuk dijadikan desa Industri. Itu semua tentu membutuhkan dukungan dari masing-masing stakeholder yang terlibat untuk diselenggarakan pada akhir tahun 2023-2024 untuk mulai direalisasikan.
Beberapa desa yang menjadi simpulan targetan untuk dijadikan desa uji coba dalam merealisasikan gagasan besar tersebut antar lain, Desa Darmaji, Senggigi, Gapuk, Mamben, Semoyang, Grimax, dan Buwun Sejati.
Kepala ASASI Wilayah NTB, Dr. Teti Zubaidah juga menyampaikan, NTB ini sangat kaya akan pembaharuan dari hal kecil hingga besar, semua ada di NTB tinggal bagaimana tata kelolanya agar sempurna. Mewujudkan desa-desa yang menjadi target dengan tujuan yang strategis, yaitu skala internasional. Namun, hal tersebut perlu membimbing kesadararan masyarakat.
“Provinsi yang kaya akan semua hal, itu ada di NTB. Apalagi dengan pangannya atau hasil panen di NTB selalu menjadi urutan pertama, untuk itu kami di ASASI siap memberikan dukungan,” ujarnya.
Eko Budhi Suprasetyawan ST. M.Si, Perwakilan ASASI Pusat memberi satu contoh salah satu desa di Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Desa dimaksud mengembangkan dan mengkontrol pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dengan menyediakan kebutuhan masyaratkat sendiri, desa ini bisa membangkitkan ekonominya .
Inisiatif mengembangkan desa industry ini tentu disambut positif oleh para kepala desa. Desa Sengigigi misalnya, dengan banyaknya perhotelan, kafe, wisata pantai dan lain sebagainya bisa dijadikan peluang untuk warga desa Senggigi untuk memasarkan produk hingga pangan.
Kades Darmaji juga menyampaikan bahwa bagaimana pentingnya semua stakeholder berkolaborasi baik itu dari pemerintah maupun dari akademisi hingga Masyarakat pada umunya. Agar terciptanya desa wisata yang modern, desa industry, hingga pembaharuan pembaharuan lainnya.
Dari penyampaian perwakilan kades yang hadir hamper semuanya sama, yaitu mengharapkan kolaborasi dari semua aspek, sebab dari semua desa di Nusa Tenggara Barat mempunyai potensi masing-masing dalam mengembangkan desanya, tinggal bagaiaman semua aspek hingga stakeholder mampu berjalan beriringan menuju pembaharuan yang berkemajuan.(DLN)



