Sumbawa (netlombok)-
Pj. Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M. Si., mengunjungi , Modern Rice Milling Plant (MRMP) atau pabrik penggilingan beras modern terbesar di Indonesia Timur (Bali-Nusra-Papua) milik Perum Bulog di di Desa Lape, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa.
Kungjungan ini untuk memastikan kegitan hilirisasi gabah di dalam daerah sudah berjalan sebagaimana diharapkan. Pj. Gubernur didampingi Asisten II Setda NTB, Dr. H. Fathul Gani, M.Si, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Muhamad Riadi, S.P., M.Ec.Dev, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, H. Abdul Azis.,SH.MH, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq. Nelly Yuniarti, dan beberapa pejabat Pemprov NTB lainnya.

Kunjungan ini sekaligus menjadi agenda program Jumat Salam yang sudah dilaksanakan dua pekan terakhir. Pj. Gubernur disambut langsung oleh Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, David Susanto. Pj. Gubernur dan seluruh rombongan meninjau seluruh proses penggilingan gabah, hingga menjadi beras dalam bentuk kemasan kedap udara siap jual.
Dalam kesempatan ini, David Susanto menjelaskan, di Indonesia, Perum Bulog hanya membangun sebanyak sepuluh unit MRMP. Delapan unit dibangun di Pulau Jawa. Satu unit di Lampung, dan satu unit di Provinsi NTB, tepatnya di Kabupaten Sumbawa. Nilai investasinya diatas Rp100 miliarKomplek MRMP dibangun diatas lahan seluas 1,6 hektar. Didalamnya dibangun musholla, rumah karyawan, kantor, jembatan timbang kapasitas 80 ton. Tiga unit silo, satu silo kapasitas tampung gabahnya 2.000 ton (total 6.000 ton untuk tiga unit).
Sebelum digiling, gabah-gabah ini dikeringkan terlebih dahulu di empat unit mesin pengering (drayer) yang kapasitasnya masing-masing 30 ton (total 120 ton) perhari. Proses pengeringan dengan mesin ini antara 10 jam, hingga 15 hingga menjadi beras.Dari mesin drayer, bulir bulir gabah kemudian masuk mesin Rice Milling Unit (RMU). Di dalam RMU ini sendiri, terdapat proses pecah kulit, pemisahan batu (destoner) yang dilakukan serba otomatis di dalam mesin.
“Mesin ini menggunakan serba sensor yang bisa memilih kerikil sekecil apapun berpisah secara otomatis dengan beras. Beras yang kuning, apalagi yang hitam juga secara otomatis terpisah. Sehingga beras yang keluar sudah sangat bersih,” terangnya.
Selain itu, papar David, MRMP ini menggunakan mesin dengan teknologi untuk memoles beras secara otomatis. Sehingga beras yang keluar dalam bentuk kemasan 5 Kg, dan 25 Kg sudah putih bersih.
“Dan lebihnya MRPM ini, kita bisa pesan mesinnya untuk mengemas beras sesuai yang kita inginkan. Misalnya, seluruh berasnya adalah bulir kepala, tanpa beras pecahan, bisa. Semua tinggal diatur melalui mesin kontrolnya,” jelas David.
Dengan MRMP termodern dan terbesar di Indonesia Timur ini, menurutnya, sangat mendukung proses hilirisasai gabah menjadi beras kemasan dan mendukung NTB sebagai daerah sentra pangan.
Pj. Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi juga dalam kesempatan ini menyampaikan apresiasi kepada Bulog yang sudah berinvestasi cukup besar untuk menguatkan NTB sebagai lumbung pangan. Lalu Gita mengurai kembali kisah saat mengawal Gubernur L. Srinata 20 tahunan silam.
Saat ini, ia mendampingi gubernur ke Jember untuk melihat mesin-mesin penggilingan beras. Dimana, beras beras yang digiling justru beras yang didatangkan dari Provinsi NTB. Beras beras tersebut kemudian dijual kembali ke NTB dalam bentuk beras kemasan. Dengan harga yang cukup tinggi.
“Ini mimpi dua dekade lalu. Saat itu gabahnya dari Plampang, digilingnya di Jember. Lalu dijual lagi kesini,” ujarnya.
Dengan hadirnya MRMP ini, kata Lalu Gita, masyarakat harus mendukung. Caranya, dengan menjual gabahnya ke Perum Bulog untuk menunjang operasional MRMP. Tidak lagi menurutnya petani menjual gabah ke pengusaha yang mengirim gabah-gabah NTB ke luar daerah. Terkecuali pada keadaan tertentu.
“Sekarang kita sudah punya Peraturan Gubernur nomo 38 tahun 2023 tentang pengendalian dan pengawasan distribusi gabah yang ditetapkan pada 16 Mei 2023. Harus diolah gabahnya di dalam daerah dulu,” ujarnya.
Pj. Gubernur juga menegaskan, Pemprov NTB sendiri sudah menandatangani kerjasama untuk perlidnungan lahan sawah abadi seluas 106.000 hektar di Sumbawa. Selain itu, masyarakat bersama seluruh pemangku kepentingan juga diminta untuk menjaga kawasannya agar tidak gundul. Sehingga saat hujan mengakibatkan terjadinya banjir dan penumpukan sedimentasi di bendungan-bendungan yang mengakibatkan daya tampung air menjadi terbatas.
“Bendungan bendungan kita juga harus dijaga supaya tidak cepat dangkal. Karena bendungan ini erat kaitannya dengan daerah kita sebagai lumbung pangan. Karena saat ini dan dalam jangka panjang kita sudah punya MRMP untuk mendukung sektor pangan kita dan nasional,” demikian Lalu. Gita.(DLN)



