Hujan di NTB belum merata. Petani di NTB, khususnya di wilayah Selatan Pulau Lombok (Lombok Timur (Lotim) dan Lombok Tengah) masih sangat tergantung pada distribusi air dari Bendungan Pandanduri di Kabupaten Lotim. Sementara di satu sisi, pemerintah sedang menggalakkan agar petani yang ada di daerah ini bisa semua menanam padi, karena NTB menjadi salah satu lumbung pangan nasional.
Namun, Minggu 4 Februari 2024, Asosiasi Pekasih (Aspek) NTB mendapatkan informasi jika air Pandandori akan ditutup untuk pendropingnya dengan alasan air sangat berkurang di Bendungan Pandanduri. Namun para pekasih tidak mau terkena informasi liar sekalipun informasi tersebut diduga sumbernya dari Kepala Unit Alokasi Air Bendungan Pandanduri, sehingga Ketua Aspek NTB Muhrim Rajasa didampingi para pekasih langsung menanyakan pada Penjabat (Pj) Gubernur NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., Asisten II Setda NTB Dr. H. Fathul Gani, M.Si., Pelaksana Harian Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTB serta ke Pj Bupati Lotim H. M. Juaini Taofik.
Asisten II Setda NTB H. Fathul Gani yang dikonfirmasi usai Salat Zuhur, Senin 5 Februari 2024, mengakui, dirinya sudah menerima WA dari Aspek NTB Muhrim Rajasa terkait persoalan yang dihadapi para pekasih di Bendungan Pandanduri.
‘’Kami langsung berkoordinasi ke Kepala BWS NT I agar turun ke lokasi Pandandori menemui Aspek NTB untuk memastikan perkembangan informasi yang membuat para pekasih menjadi resah. Alhamdulillah Kepala BWS Nusa Tenggara I NTB langsung turun dan memastikan bahwa tidak ada penutupan kran droping air Pandanduri sekalipun yang didroping berkurang dari jumlah angka kesepakatan dari 1,8 kubik menjadi 1,5 kubik,’’ terangnya.
Mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB ini menambahkan, dari informasi yang diperoleh dari pihak BWS Nusa Tenggara I, kondisi air Bendungan Pandanduri masih di kisaran 9.000 kublik di atas garis merah. Dalam hal ini, ujarnya, respons cepat pihak BWS Nusa Tenggara I sangat diapresiasi para pekasih, sehingga droping air untuk warga bercocok tanam masih berjalan.
Diakuinya, para pekasih sangat berterima kasih pada Pj Gubernur NTB dan juga Asisten II Setda NTB yang memfasilitasi penyelesaian persoalan misinformasi di lapangan, sehingga petani masih bisa tetap mengairi tanaman padinya.
‘’Aspek NTB mengajak para pekasih, GP3A, P3A untuk sama-sama menyampaikan terima kasih pada pemerintah provinsi, Pj. Gubernur NTB, Dinas PUPR , Asisten II Setda NTB, BWS Nusa Tenggara I dan Pemkab Lotim, karena isa mendapatkan respons cepat. Hal ini tentu tak lepas dari kerja sama dan koordinasi yang cepat oleh para pihak baik pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat,’’ ujarnya. Terkait direktif Pj Gubernur menyelesaikan permasalahan pupuk bersubsidi di tingkat petani dan blank spot, diakuinya, dirinya sudah berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis. Termasuk pihak berkoordinasi dengan lintas sektoral, terutama mengenai penyaluran pupuk bersubsidi, sehingga tepat sasaran dan tidak terjadi kelangkaan. (IMB)



