Dekan FEB Unram : Balapan dan Sirkuit Mandalika Bisa Mendongkrak IPM NTB
Lombok (netlombok)-
Pengamat ekonomi, Dr. Ihsan Rois, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram memproyeksikan masa depan Nusa Tenggara Barat dengan adanya Sirkuit Mandalika dan event-event balap kelas nasional dan internasional menuju ke arah yang sangat positif.
Adanya event-event besar dan pusat investasi di Lombok Selatan ini harus berdampak kepada percepatan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB.
Dr. Ihsan Rois menyebut,gelaran balap World Superbike (WSBK) yang diselenggarakan 3-5 Maret 2023, dan MotoGP yang sudah juga dilaksanakan di Sirkuit Mandalika adalah magnet yang tidak kecil untuk menghadirkan wisatawan, dan investasi. Dampak ekonominya akan sangat besar. Apalagi nanti setelah rampungnya pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Ditambah lagi dengan adanya event-event balapan motor cross internasional (MXGP) yang sudah dilaksanakan tahun lalu di Sirkuit Samota Sumbawa. Dan pertengahan tahun 2023 ini akan kembali digelar dua kali, di Sirkuit Samota dan Sirkuit Tohpati, Kota Mataram.
WSBK, apalagi MotoGP dan MXGP ini, kata Ketua Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) Wilayah Bali, NTB dan NTT ini, adalah gerbang NTB memasuki dunia internasional. artinya, jangan melihat dampaknya hanya dari nilai penjualan tiket balapnya saja.
“Untung berapa sih kalau lihat nilai penjualan tiketnya saja. tapi dampaknya dalam jangka pendek, dan jangka panjang. Bahkan mata dunia tertuju kepada Lombok, Indonesia. Akan ada persepsi di masyarakat dunia, oh ternyata Indonesia tidak hanya Bali saja, tapi ada Lombok NTB juga,” katanya.
Bahkan Lombok ini bisa dinilai, lebih menarik di banding Bali yang sudah pembangunannya bergerak di level top.
“Kalau Lombok, NTB ini masih besar peluangnya ditingkatkan terus pembangunannya. Artinya kita sudah punya sumber daya alam yang luar biasa. Dan akan menjadi destinasi wisata andalan masa depan di Indonesia,” imbuhnya.
Dr. Ihsan Rois menambahkan, indikator kemajuan masa depan Lombok, NTB ini menurutnya bisa dilihat dari seringnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahudin Uno yang sudah bolak – balik Lombok untuk mendorong aktifitas ekonomi dan pariwisata yang ada di daerah ini. Menteri Sandiaga Uno menurutnya tentu tak tertarik bolak balik, jika tidak melihat potensi besar ini untuk digarap sebaik mungkin.
Dengan besarnya potensi dan peluang yang dimiliki NTB ini, menurutnya, tinggal ditingkatkan kapasitas dan kualitasnya. Bukan hanya sumber daya alam, pun sumber daya manusianya harus dibangun bersamaan.
“Artinya dengan adanya WSBK ini, Lombok, NTB harus maju sumber daya alamnya, sumber daya manusianya, SDM-SDMnya. Agar kita jangan hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Tidak menjadi pelaku. Tingkatkan, dengan cara memberikan pembelajaran terus menerus pada semua stakeholdes yang terkait di daerah kita. Demikian juga fasilitas-fasilitas pendukungnya,” pesannya.
Mendewasakan masyarakat lokal ini sangat penting, dalam menghadapi kemajuan yang sudah ada di depan mata. Bisa mencontoh dari Bali. Yang sumber daya alam dan sumber daya manusianya sangat siap.
“Di Barcelona yang hanya punya jalan raya. Kemudian di Singapur yang terbatas sumber daya alam dan energinya. Tapi dia bisa menyelenggarakan balap secara rutin dan mendatangkan tidak sedikit wisatawan. Secara sumber daya alam mereka miskisn. Tetapi secara teknologi mereka kaya. Lombok, NTB akan bisa seperti itu,” ujarnya.
Dengan potensi besar yang dimiliki NTB ini, lanjut Dr. Ihsan Rois, NTB, relevansinya adalah terdongkraknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB dari jajaran bawah, menuju top five (lima terbesar teratas). Bukan sesuatu yang tidak mungkin, dengan besarnya sumber daya alam yang ada di Lombok dan NTB yang saat ini terus digarap.
Yang terjadi saat ini adalah pembangunan “di NTB”, bukan pembangunan “NTB”. pembangunan di NTB dimaknainya, yang menerima dampak besarnya adalah orang luar. Sementara pembangunan NTB dimaknai sumber daya yang dimiliki NTB, dinikmati oleh masyarakat NTB.
“Kita harus ubah, dari pembangunan di NTB, menuju pembangunan NTB. dampak dari semua yang sedang dilaksanakan di NTB ini adalah, idealnya harus mendongkrak pembangunan IPM kita bergeser ke arah yang paling baik. karena terkorelasi ketika dampak ekonomi besar, efeknya ke pendidikan, kesehatan. jika dampaknya adalah pemerataan pembangunan. Kalau tidak bergeser-geser IPM kita dengan menggeliatnya sport tourism di NTB, malulah kita,” demikian Dr. Ihsan Rois.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB per 1 Desember 2022 lalu, IPM NTB masih berada pada urutan ke 29 dari 34 provinsi di Indonesia. IPM terendah di Provinsi NTB ditempati oleh Kabupaten Lombok Utara (65,70), sedangkan urutan teratas ditempati oleh Kota Mataram (79,59).
Jumlah kabupaten/kota di Provinsi NTB dengan status capaian pembangunan manusia yang tinggi (70 ≤ IPM < 80) pada tahun 2022 ada sebanyak 3 kabupaten/kota, sedangkan 7 lainnya masih berstatus “sedang” (capaian 60 ≤ IPM < 70).(DLN)



