EkonomiHeadlineNews

Ancaman El Nino dan Ikhtiar Kementan RI Tingkatkan Produksi Pangan

Kota Mataram (netlombok.com) –

Ancaman El Nino di Indonesia diantisipasi cepat oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan). Jika tidak ada antisipasi dengan memperhatikan ketersediaan beras, maka siap-siap Indonesia melakukan impor beras. Hal ini tidak diinginkan pemerintah pusat. Atas dasar itu, jajaran Kementan ramai-ramai turun ke daerah, termasuk ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat dampak El Nino.

Cuaca Sabtu 12 Agustus 2023 siang di Rumah Makan Prima Rasa, Kota Mataram, Provinsi NTB sangat panas. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat jajaran pertanian di daerah ini menunggu datangnya Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Ada yang menunggu di dalam kompleks rumah makan. Ada juga yang stand by di areal persawahan yang berada di belakang rumah makan ini.

Jika di beberapa bagian di daerah ini mengalami kekeringan. Bahkan, mereka terpaksa mendatangkan air bersih hanya sekadar untuk minum hingga kebutuhan sehari-hari. Namun, di kawasan utara Kota Mataram ini, air mengalir dengan lancar. Bahkan, petani sudah selesai membajak sawah dan tinggal menanam padi saja.

Mentan bersama anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal NTB H. Ahmad Sukisman Azmy pun tiba. Walikota Mataram H. Mohan Roliskana didampingi beberapa pejabat lingkup Kementan dan Dinas Pertanian di NTB menyambut kedatangan Mentan yang didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Muhammad Taufieq Hidayat dan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Muhammad Riadi mewakili Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah.

Tanaman padi di Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB yang terancam gagal panen, karena kekeringan.

Rombongan Mentan pun berjalan menuju lokasi sawah yang disediakan untuk menanam padi. Tanpa menggunakan sepatu boot, Mentan bersama Walikota dan perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menanam padi bersama petani.  Usai menanam padi, Mentan berdialog dengan petani mengenai kebutuhan dan persoalan yang dihadapi. Bahkan, pihaknya siap memberikan bantuan, seperti sarana pertanian hingga combine harvester agar hasil panen padi meningkat.

Mentan Syahrul Yasin Limpo, Walikota Mataram H. Mohan Roliskana, jajaran direktur jenderal di Kementan bersama petani bersama-sama membuat pupuk biosaka. Pembuatan pupuk ini merupakan salah satu cara meningkatkan produktivitas pertanian dan pengurangan pupuk kimia.  

Dalam arahannya, politisi Partai Nasdem ini menegaskan, jika pemerintah pusat telah menjadikan NTB sebagai penyangga pasokan beras nasional selama fenomena El Nino yang terjadi. Hal ini didasari perintah Presiden Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) menugaskan Kementan menambah area tanaman padi totalnya seluas 500 ribu hektar.

Untuk itu, kedatangan mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini adalah mengondisikan kesiapan NTB menjadi salah satu provinsi yang akan menyangga kawasan Indonesia timur untuk ketersediaan pangan, khususnya beras dalam menghadapi konstraksi El Nino sebagai ancaman.

Diakuinya, dalam menghadapi El Nino sekarang ini ada 6 provinsi yang menjadi sentra produksi beras di Indonesia. Pertama, Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Sementara tiga provinsi dijadikan penyangga dari enam provinsi sentra produksi beras nasional tersebut, yakni Provinsi NTB, Lampung dan Kalimantan Selatan.

Penunjukan NTB ini, ujarnya, tidak terlepas dari posisi Provinsi NTB yang  sudah teruji dalam beberapa tahun terakhir, di mana produktivitas beras terus meningkat dan stok pangan yang semakin baik. Atas dasar itu, pihaknya terus mendorong dan memberi ruang pada daerah dalam mengembangkan potensi pertaniannya. Apalagi, NTB dianggap sudah selesai dengan kebutuhan beras dalam daerah dan buffer stock-nya semakin baik.

‘’Oleh karena itu posisi ini harus didorong dan diberi ruang. NTB mungkin sudah selesai dengan kebutuhan beras di dalam daerahnya, tapi NTB juga harus berkontribusi pada kepentingan nasional,” terangnya.

Diakuinya, di tengah ancaman El Nino dalam peta pertanian banyak yang hitam atau coklat. Namun, Mentan menemukan banyak lahan pertanian yang masih memiliki ketersediaan air yang cukup. Salah satunya, di NTB.

Sebagai daerah penyangga pangan nasional, Mentan juga mengakui banyak lahan yang subur di NTB. Lahan ini, tambahnya, harus dijaga dari alih fungsi lahan yang banyak terjadi. Bahkan, secara berseloroh Mentan menyebut, banyaknya lahan yang subur ini, karena orang NTB bisa memindahkan lokasi hujan. ‘’Misalnya, mau hujan di sini, tapi oleh orang NTB hujan bisa dipindahkan ke tempat lain,’’ selorohnya.

Dalam menghadapi El Nino, tambahnya, Presiden Jokowi meminta agar air sungai, bendungan dan sumber-sumber mata air lainnya supaya dimanfaatkan dengan maksimal. Terutama dalam mengairi 500 ribu hektar tanaman padi selama El Nino. Menurutnya, jika petani menanam padi sekarang, maka dalam  tiga bulan, Indonesia akan memiliki beras baru. Inilah menurutnya, yang harus dicapai, sehingga dampak El Nino bisa diminimalisir.  

Meski demikian, Mentan mengakui, ada El Nino atau tidak, ada daerah-daerah yang merah karena dilanda kekeringan akibat kemarau. Namun, masih banyak daerah yang masih hijau, di mana sumber-sumber mata air masih dapat dimanfaatkan untuk menanam padi.

Sementara daerah yang kuning atau ketersediaan air irigasi pas-pasan harus dilakukan intervensi teknologi, mekanisasi dan varietas padi yang tahan terhadap hama. Dalam hal ini, Kementan akan fokus memperhatikan daerah yang hijau dan kuning dengan 500 ribu hektar sebagai penyangga. Artinya, kalau El Nino berdampak terhadap produktivitas menurun, maka 500 ribu hektar itu langsung mampu mengatasi dampak yang ditimbulkan.

Kebijakan pemerintah pusat menjadikan NTB sebagai daerah penyangga nasional cukup beralasan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, pada 2022, luas panen padi di NTB mencapai sekitar 270,09 ribu hektar dengan produksi sebesar 1,45 juta ton gabah kering giling (GKG). Jika dikonversikan menjadi beras, maka produksi beras di NTB pada 2022 mencapai 827,52 ribu ton.

Sementara luas panen padi pada 2022 mencapai sekitar 270,09 ribu hektar, mengalami penurunan sebanyak 6,12 ribu hektar atau 2,22 persen dibandingkan luas panen padi di 2021 yang sebesar 276,21 ribu hektare. Namun, produksi padi pada 2022 yaitu sebesar 1,45 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 33,39 ribu ton atau 2,35 persen dibandingkan produksi padi di 2021 yang sebesar 1,42 juta ton GKG.

Sedangkan, produksi beras pada 2022 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 827,52 ribu ton, mengalami kenaikan sebanyak 19,02 ribu ton atau 2,35 persen dibandingkan produksi beras di 2021 sebesar 808,51 ribu ton. (IMB)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button