Lombok (netlombok)-
Perum Bulog menyiapkan Rp1,5 triliun anggaran untuk menyerap gabah dan beras petani selama tahun 2023 ini.
Jika dikonversi, dari anggaran tersebut, Bulog NTB ditargetkan menyerap sebesar 155.000 ton setara beras. Jika dikonversi ke nilai pembelian, 1 Kg beras harganya Rp9.950 dikalikan 155.000 ton (155.000.000 Kg), nilai anggarannya mencapai 1,542 triliun.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, David Susanto di ruang kerjanya, Selasa (11/7/2023) kemarin menyampaikan, dari target serapan tahun 2023, capaian serapannya sebesar Rp82.500 ton (54 persen). Meski baru satu semester, capaian serapan ini masih lebih tinggi dibanding serapan setahun 2022 lalu yang hanya terserap 78.000 ton.
“Masih ada musim kedua panen, tapi kemungkinan serapan tidak sebesar semester I dimana ada puncak panen. Tapi kami berusaha mengejar target 100 persen serapan,” terangnya.
Pada saat musim puncak panen, dalam sehari beras yang bisa diserap oleh Bulog NTB bisa mencapai kisaran 500 ton, hingga 1.000 ton. Saat ini, kata David, serapan harian yang masuk dari petani sekitar 200 ton sampai 300 ton.
Menurut David, secara nasional terjadi penurunan serapan di sejumlah daerah di Indonesia. Dengan tingginya produksi padi tahun ini, NTB dijadikan sebagai tumpuan serapan oleh Bulog.
Tingginya serapan ini, lanjut David, bisa juga dipengaruhi oleh kenaikan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) yang dijadikan acuan standar harga pembelian gabah/beras ditingkat petani.
“Tahun lalu HPP8.300/Kg. Tahun ini sudah naik menjadi Rp9.950/Kg. sehingga banyak petani menjual beras/gabahnya ke Bulog,” papar David.
Perum BULOG tetap konsisten melaksanakan salah tugasnya sesuai Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2015 mengamankan harga gabah beras di tingkat petani dengan menyerap beras petani dalam negeri sepanjang tahun ini.
Kegiatan penyerapan gabah beras petani dalam negeri selain bertujuan untuk menjaga tingkat harga bagi produksi petani, juga untuk memupuk stok sebagai cadangan beras pemerintah.
Kegiatan penyerapan gabah/beras petani dalam negeri ini juga berperan dalam menggerakkan perekonomian di tingkat petani sehingga dapat memulihkan roda perekonomian sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo.
Lebih dari seteriliun rupiah beredar di perdesaan pada saat kegiatan penyerapan dilakukan Perum Bulog. Penyerapan ini juga merupakan salah satu fungsi stabilisasi harga ditingkat petani.(MDE)



