Mataram (netlombok) –
Salah satu Perajin lokal tidak bisa menghindari penjualan produk dengan harga tinggi akibat ketergantungan bahan baku dari dari luar dan tingginya ongos produksi.
M. Maliki pemilik rumah produksi kain tenun Sentosa Sasak Tenun Pringgasela yang mengemukakan hal ini. Menurutnya, perajin juga sangat berharap bisa menekan biaya produksi sehingga harga jual produk-produk tenun lokal bisa dijual dengan harga yang jauh lebih murah.
Maliki mengemukakan beberapa fakta mengapa harga produk kain tenun tinggi. Pertama, NTB sangat bergantung dengan bahan baku benang dari luar. Menurut distributornya, benang yang biasa dibeli didatangkan dari India.
Sejak Covid-19, harga benang kata Maliki mengalami kenaikan. Harga benang yang dulunya 1 grenten Rp3.000, sudah naik menjadi hingga Rp5.000. harga bahan baku benang ini melonjak hampir 100 persen.
Kedua, ongkos penenun gedogan juga naik. Yang tadinya Rp150.000 perlembar ukuran 4 meter x 63 cm naik menjadi Rp200.000 hingga Rp250.000.
Kenaikan ongkos menenun gedogan ini menurutnya sangat wajar. Sebab satu lembar seukuran tersebut dikerjakan 2 minggu, hingga 3 minggu. Jika dihitung dengan harga Rp150.000 perlembar, artinya perhari ongkosnya tidak lebih dari Rp10.000.
“Apa mau tega, memberikan ongkos menenun tradisional hanya Rp10.000 sehari. Masih kurang dari kharga beras sekilo sekarang. Sebenarnya harga ongkos ini saja sudah tidak layak. Tapi karena para penenun ini menganggap ini sebagai warisan budaya, niatnya hanya agar menenun ini tetap lestari,” papar Maliki.
Menenun menggunakan tenun gedogan masih sangat dibutuhkan. Alasannya, dengan menenun tradisional, berbagai motif tenun lokal bisa dibuat diatas lembar kain. Kendatipun saat ini sudah ada Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), namun keterbatasannya adalah terbatasnya kreativitas membuat motif.
“Dengan ATBM, motif yang dibuat hanya motif-motif polos. Tidak banyak motif kain lokal yang bisa dibuat. Lain halnya mesin tenun yang digunakan pengerajin di Jepara, Sumatera, mesin tenunnya menggunakan jangkar yang bisa membuat motif. Tapi ATBM yang menggunakan jangkar ini kan mahal bagi perajin,” tambahnya.
Ketiga dari segi pewarna bahan. Sama seperti benang, bahan pewarna tekstil ini masih mengandalkan pasokan dari luar daerah. Bahkan seringkali dibilang stoknya limit. Begitu juga jika menggunakan bahan pewarna alam yang menggunakan dedaunan dan kulit kayu. Menurutnya juga sulit mendapatkan tumbuh-tumbuhan yang dijadikan bahan pewarna alam.
Untuk menekan harga produk lokal, terutama kain tenun, Maliki sejak lama menyarankan kepada pemerintah daerah melalui OPD terkait, untuk membantu perajin mendapatkan bahan baku yang lebih murah. Sehingga tidak tergantung pada distributor dari luar.
“Kalau mau pemerintah daerah bantu perajin. NTB Mall misalnya, jangan jual bahan jadi dari perajin lokal saja. Seharusnya sediakan juga bahan bahan baku kebutuhan perajin. Sehingga kita tidak kesusahan mendapatkan bahan baku. Dan harganya mungkin bisa lebih murah agar harga jual produk lokal bisa lebih murah,” demikian Maliki.(MDE)



