Ekonomi

Akibat Krisis Air Bersih Kunjungan Wisatawan di Gili Meno Menurun, Dispar KLU : Segara Ada Solusi Terbaik

Lombok Utara (netlombok)-
Krisis air bersih di Gili Meno menjadi perhatian, bahkan informasi tidak adanya air bersih sudah sampai keluar daerah. Tidak adanya air bersih mengalir sangat memberikan dampak terhadap destinasi wisata yang ada di gili, khususnya Gili Meno. Karena air menjadi kebutuhan utama bagi hotel, restoran dan masyarakat yang ditinggal disana.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara Denda Dewi Treni Budiastuti mengatakan, dampak luar sangat luar biasa yang dirasakan sangat memberatkan sekali apalagi untuk tamu hotel dan restoran. Tak hanya itu, berdampak juga terhadap tingkat kunjungan wisatawan di Gili Meno karena hal tersebut.

“Kunjungan sangat turun drastis dan rata rata yang di Gili Meno ini menginapnya di Gili Air dan Trawangan, karena paket wisatanya itu ada kunjungan ke Gili Meno,” ujar Denda Dewi Treni Budiastuti, kemarin.

Diakui hampir seluruh industri pariwisata disana merasakan dampaknya. Kendati demikian, diharapkan persoalan krisis air ini bisa segera terselesaikan dan kondisi pariwisata maupun kunjungan kembali membaik. Apalagi sebentar lagi memasuki masa high season pada Juli, Agustus. “Saya lihat juga kunjungan tamu sudah mulai meningkat. Saat peak season itu mudah-mudahan sudah teratasi (krisis air). Kami juga sudah ikut hearing kemarin, mudah-mudahan segera ada solusi terbaik dan segera disikapi oleh semua pihak,” jelasnya.

Dampak dari krisis air di Gili Meno ada tetapi tidak terlalu signifikan, tetapi jika kondisi berkepanjangan maka tidak menutup kemungkinan dampak dirasakan lebih besar. Sekarang ini masih ada beberapa tamu yang berkunjung ke Gili Meno. “Tentunya ada solusi yang dimanfaatkan oleh hotel dan restoran. Istilahnya mereka masih menggunakan ketersedian air yang ada dimiliki,” ucapanya.

Sebelumnya, Ketua Gili Hotel Asosiasi (GHA) Lalu Kusnawan mengatakan tidak adanya air bersih ini sudah berulang kali, jika terus berlanjut dan tidak segera diatasi. Proses recovery hotel dan restoran tidaklah mudah untuk menarik kembali wisatawan. Karena membutuhkan proses yang lama dan membutuhkan biaya yang besar bagi properti untuk menginformasikan bahwa sudah air. Ditambah kondisi pasca pandemi covid-19, pelaku usaha masih dalam tahap pemulihan. Bahkan sampai sekarang ini belum bisa dikatakan benar-benar pulih.

“Harusnya kita di support. Artinya ini (air mati) jangan menjadi semacam alasan buat kita, karena akhirnya tidak punya pilihan bagaimana membayar pajak, membayar kewajiban ke pihak ketiga, gaji karyawan, dan kewajiban lainnya kalau seperti ini,” ujarnya. (GYM/NL)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button