
Bali, Netlombok- Tragedi kembali menghantui perairan Selat Bali. Sebuah kapal penumpang, diduga KMP Tunu Pratama Jaya, dilaporkan tenggelam secara tiba-tiba saat melakukan penyeberangan dari Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Hingga Kamis pagi (3/7), sebanyak 18 korban telah ditemukan terdampar di pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana.
Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Kabid Humas Polda Bali Kombes Ariasandy dalam keterangan resminya. Dari 18 korban yang ditemukan, 14 orang selamat, 6 di antaranya mengalami gangguan kesehatan, dan 4 korban dinyatakan meninggal dunia.
Berdasarkan keterangan dua korban selamat, Farid asal Singojuruh Banyuwangi dan Dayat asal Benelan Lor Banyuwangi, insiden terjadi begitu cepat dan tanpa tanda-tanda peringatan.
“KMP Tunu Pratama Jaya tiba-tiba mati mesinnya, lalu kapal mulai miring. Lampu sempat mati dan hidup sebentar, tapi tak lama kapal langsung tenggelam. Semua terjadi sangat cepat,” ungkap Farid saat diwawancarai petugas.
Kejadian ini diperkirakan terjadi pada dini hari, dan para korban kemudian ditemukan sekitar pukul 06.00 WITA oleh warga setempat di pesisir pantai Banyubiru. Proses evakuasi pun segera dilakukan oleh aparat gabungan dari kepolisian, Basarnas, serta warga sekitar.
Para korban selamat kini telah diamankan di dua lokasi berbeda di wilayah Pebuahan. Sebagian dalam kondisi sehat, sementara 6 lainnya mengalami keluhan kesehatan dan telah dievakuasi ke Puskesmas Banyubiru untuk mendapatkan perawatan medis.
Berikut daftar korban selamat:
Diamankan di rumah Bapak Saifulloh Pebuahan:
- Nurdin (52) – Ketapang
- M. Farid Wajdi (19) – Singgola, Banyuwangi
- Erik Imbawani (30) – Pasirian, Lumajang
- Richo Krafsanjani (28) – Wongsorejo, Banyuwangi
- Bahrul (26) – Sempolan, Jember
- Ahmad Suyitno (35) – Ledokombo, Jember
- Samsul Hidayat (45) – Benelanlor, Banyuwangi
Diamankan di rumah Bapak Rapai Pebuahan:
8. Muhammad Holil (26) – Sumber Salak, Jember
9. Bejo Santoso (51) – Tampo, Banyuwangi
10. Moh. Tri Wahyudi (19) – Srono, Banyuwangi
11. Deni Hermanto (34) – Singolatren, Banyuwangi
12. Ahmad Lukan (42) – Umbulsari, Jember
13. Febriani (27) – Rogojampi, Banyuwangi
14. Ibnul Vawait (27) – Kalipuro, Banyuwangi
Keempat jenazah korban tewas telah dievakuasi ke kamar jenazah RSU Negara untuk proses identifikasi lebih lanjut dan penanganan oleh tim medis.
Identitas korban meninggal:
- Anang Suryono – Jl. Serma Abd Rahman 35
- Eko Sastrio (51) – Lingkungan Sukowidi
- Elok Rumantini (34) – Lingkungan Sritanjung
- Cahyani (45) – Dsn. Krajan Kulon
Pihak kepolisian, dalam hal ini Polda Bali dan Polres Jembrana, segera mengambil tindakan cepat dengan melakukan penyisiran dan koordinasi lintas instansi. Operasi SAR gabungan juga dilaporkan terus berlangsung untuk memastikan tidak ada korban lain yang masih berada di laut atau belum ditemukan.
Menurut Kombes Ariasandy, kepolisian juga akan menyelidiki penyebab pasti tenggelamnya kapal. Dugaan awal menunjukkan ada gangguan pada mesin kapal dan sistem kelistrikan, namun penyelidikan mendalam tetap akan dilakukan dengan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Selain evakuasi fisik, pemulihan kondisi mental dan psikologis para korban juga menjadi fokus utama. Puskesmas Banyubiru dan RSU Negara telah menyiapkan tenaga kesehatan dan fasilitas untuk penanganan darurat, termasuk trauma healing bagi korban selamat.
Pemerintah daerah Jembrana juga mulai mengupayakan dukungan logistik seperti makanan, pakaian, dan tempat penampungan sementara bagi para korban dan keluarga.
Insiden ini memunculkan sorotan publik terhadap standar keamanan transportasi laut di jalur vital Selat Bali, yang dikenal sebagai salah satu lintasan tersibuk di Indonesia. Jalur penyeberangan ini menjadi penghubung utama antara Pulau Jawa dan Bali, dengan frekuensi kapal yang tinggi, terutama menjelang musim liburan dan arus mudik.
Beberapa pihak mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh armada kapal yang beroperasi di lintasan tersebut. Hal ini penting agar peristiwa serupa tidak terulang, mengingat tingginya risiko keselamatan di perairan tersebut jika sistem operasional kapal tidak memenuhi standar.
Sejumlah warga Dusun Pebuahan yang turut membantu proses evakuasi menyatakan bahwa para korban ditemukan dalam kondisi basah kuyup dan kelelahan. Beberapa di antaranya terombang-ambing di lautan selama lebih dari 2 jam sebelum berhasil berenang ke pantai.
“Waktu subuh kami lihat ada orang yang lemas di tepi pantai, ada juga yang berteriak minta tolong dari kejauhan. Kami langsung bantu semampunya,” ujar Saifulloh, warga setempat yang menampung korban di rumahnya.



