News

Penyu di Lombok Utara, Dulu Dibuang, Sekarang Disayang

Lombok (netlombok)-

Keberadaan penyu di Pantai Nipah, Kabupaten Lombok Utara dulunya tak aman. Hewan amphibi ini oleh masyarakat sekitar dijadikan buruan, kemudian dikonsumsi, bahkan diperjualbelikan.

Pantai Nipah boleh dibilang tempat yang beruntung. Karena menjadi salah satu tempat mendarat dan bertelurnya hewan bercangkang ini. Di Indonesia, bahkan di dunia, tidak banyak pesisir yang menjadi tempat pendaratan dan berkembangbiaknya penyu. Bahkan boleh dihitung dengan jari.

Dibawah tahun 2017, masyarakat setempat jika melihat penyu mendarat, biasanya ditangkap. Apalagi telurnya. Diambil, kemudian dijual ke sejumlah pasar. Hingga ke pasar – pasar di Kota Mataram.

Untungnya ada kelompok masyarakat yang perduli, kemudian menyelematkan habitat penyu di Pantai Nipah ini. Bahkan pantai ini sudah dijadikan tempat penangkaran dan pusat edukasi penyu.

Husnaini, pemerhati sekaligus anggota TCC Nipah menjelaskan, sejak tahun 2018 lalu konservasi penyu mulai digiatkan. Konservasi dilakukan secara swadaya.

Ketertarikan melakukan konservasi ini juga tidak lepas dari munculnya kesadaran untuk melestarikan potensi penyu ini.

Pada saat musim bertelur penyu, kata Husnaini, masyarakat memburu telur – telurnya. Kemudian dikonsumsi. Bahkan dijual. Indukan penyu juga ditangkap, kemudian dijual.

“Sehingga ada inisiatif bersama teman teman,. Bagaimana supaya generasi kita kedepan, masih melihat penyu di puluhan tahun kedepan. Supaya penyu ini tidak punah. Sehingga dibikin konservasi ini,” kata Husnaini.

Musim bertelur dimulai sejak Januari, puncaknya pada bulan Juni. Sekali bertelur, biasanya diatas 100 butir.

Sejak digalakkannya konservasi, masyarakat setempat sadar. Telur-telur penyu yang sudah didapat bahkan dikumpulkan untuk ditangkarkan hingga menetas.

Pertamina Patra Niaga sendiri sudah tiga tahun terakhir bekerjasama dengan TCC untuk membantu kegiatan konservasi penyu. Bantuan yang diberikan tergantung kebutuhan. Diantaranya yang sudah dibantu adalah teknologi/peralatan untuk penetasan telur penyu tanpa pasir.

Ada tiga jenis penyu yang berkembangbiak di Pantai Nipah. Penyu lengkang, penyu sisik, dan penyu hijau. Dua jenis, yaitu penyu sisik dan penyu lengkang termasuk jenis yang dilindungi. Tidak diperbolehkan diambil, apalagi untuk diperjualbelikan.

“Terutama penyu sisik, selain diambil untuk dijual dagingnya, katanya digunakan untuk dibuat sate, karapasnya juga bernilai jual tinggi. Itu yang bikin dia diburu dan agak punah,” ujarnya.

Japra (Saparindi), Pembina TCC Nipah mengatakan, dulunya juga prihatin melihat keterancaman penyu di Pantai Nipah. Karena dijadikan buruan untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan. Padahal, penyu ini harus dilestarikan.

Lalu bersama masyarakat sekitar, perlahan-lahan dilakukan penyadaran bahwa penyu adalah hewan laut yang langka dan harus dipetahankan habitatnya. Apalagi tempat pendaratan dan berkembangbiaknya penyu tidak disembarang tempat.

Japra mengatakan, setelah beberapa tahun terakhir dibuat Kawasan konservasi penyu, Pantai Nipah semakin pavorit menjadi tujuan berwisata. Wisatawan dari berbagai daerah, bahkan luar negeri mulai banyak berkunjung.

Apalagi, Pantai Nipah menjadi salah satu jalur penyeberangan menuju tiga gili ternama di Lombok Utara. Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno.

“Wisatawan banyak yang datang kemari. Tujuannya bukan untuk berwisata saja. Mereka kesini ingin melihat penyu, dan belajar tentang penyu,” terangnya.

Geliat ekonomi juga makin nampak. Jumlah pedagang lapak yang menjajakan kuliner seafood di Pantai Nipah ini bahkan semakin menjamur. Artinya, keberadaan wisatawan yang datang melihat penyu ini menjadi pasar tersediri bagi UMKM setempat.

“Anak-anak sekolah juga banyak belajar tentang penyu kemari. Kita berharap masyarakat makin sadar melestarikan penyu. Sehingga 20 sampai 30 tahun kedepan, generasi kita masih bisa menyaksikan penyu,” demikian Japra.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button