Headline

Dari Wilayah Terpencil, Desa Tumpak Menjelma jadi Sentra Eduwisata Hijau

Lombok Tengah (netlombok.com) –
Dahulu hanyalah sebuah desa terpencil di tengah hutan lindung, Desa Tumpak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, kini menjelma menjadi pusat edukasi, produksi, dan wisata berbasis ekologi berkat Program Perhutanan Sosial yang dijalankan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Bina Lestari. Program yang didukung oleh Pertamina ini menjadi bukti bahwa hutan bisa dikelola secara lestari dan produktif, dengan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan.
Program Perhutanan Sosial KTH Bina Lestari mengusung konsep Ecology, Economy, dan Education, dengan memadukan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal. Program ini bukan hanya menanam pohon, tetapi menumbuhkan harapan dan kesejahteraan.
Kisah ini dimulai dari keprihatinan Burhanuddin, seorang warga desa yang sempat merantau untuk menempuh pendidikan di luar, dan kembali pada tahun 2021. Ia mendapati hutan yang dulu asri telah berubah menjadi lahan gundul.
“Saya kuliah di Prancis. Saya kembali dan melihat bukit-bukit kami tinggal bebatuan. Hutan sudah hilang,” ujar Sekretaris KTH Bina Lestari sekaligus Pendiri Gawah Bonga Foundation ini.
Bersama warga, ia mulai membangun gerakan pelestarian, yang kemudian diperkuat oleh dukungan PT. Pertamina (Persero) dan berbagai pihak seperti BPDAS NTB, Dinas Lingkungan Hidup NTB dan Lombok Tengah, serta BPKPH. Pada Februari 2022, KTH Bina Lestari mendapat hak kelola seluas 96 hektar hutan kemasyarakatan dari Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan.
Program dirancang dalam peta jalan lima tahun. Tahun 2023, dimulai dengan pemetaan sosial, musyawarah kelompok, dan penanaman bibit.
Tahun 2024, dilakukan pelatihan pengolahan kelapa, pembuatan pupuk, dan produk turunan. Tahun 2025, fokus pada pembangunan rumah produksi berbasis energi terbarukan dan pelatihan keuangan dasar.
Tahun 2026, kawasan ini dikembangkan sebagai destinasi eduwisata, pertanian, dan peternakan berkelanjutan. Tahun 2027, ditargetkan sebagai fase mandiri dengan pembentukan koperasi pengelola.
Salah satu titik penting dalam transformasi ini adalah pendirian rumah produksi berbasis energi terbarukan. Rumah produksi ini dilengkapi mesin otomatis untuk pengolahan virgin coconut oil (VCO), didukung panel surya sebagai sumber energi, menciptakan operasional zero emission. Tak hanya itu, Pertamina juga mendukung pembangunan greenhouse untuk budidaya selada dan sayur organik.
“Dulu semua manual, sekarang semua mesin. Kami tinggal operasikan,” papar Burhanuddin kepada Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero), Mochammad Iriawan saat melakukan kunjungan ke lokasi ini, Selasa, 8 Juli 2025.
Turut mendampingi juga, Condro Kirono dan RA Sondaryani (Komisaris Independent PT. Pertamina (Persero)), Nanik S. Deyang (Komisaris PT. Pertamina (Persero). Eddy Fritz Sinaga (Anggota Komite Audit PT. Pertamina (Persero). Arya Dwi Paramita (Corporate Secretary PT. Pertamina Persero).
Burhan menjelaskan, program ini telah menciptakan tiga jenis pekerjaan baru, yang mencakup sektor pengolahan, pertanian, dan peternakan. Kini, lebih dari 60% masyarakat aktif bekerja, termasuk ibu-ibu yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan atau menjadi TKI.
“Sekarang mereka bekerja di rumah produksi, tidak perlu ke luar negeri lagi untuk mencari pekerjaan. Pendapatan warga melonjak. Dulu penghasilan ibu-ibu hampir nol. Sekarang bisa mencapai UMR,” katanya.
Selain itu, 30.000 bibit pohon ditanam untuk mendukung produksi pangan ternak dan konservasi.
Pilar pendidikan tidak luput dari perhatian. Anak-anak diajarkan pembuatan pupuk organik, pengelolaan hutan, bahkan Bahasa Prancis. Melalui kerja sama dengan kampus-kampus di Prancis, Belgia, dan lembaga Eropa, desa ini menerima kunjungan mahasiswa asing untuk magang dan mengajar. Kurikulum pendidikan lingkungan pun disesuaikan dengan standar Eropa.
Program ini telah memberi hasil nyata seperti, 30.000 pohon produktif ditanam di 96 hektar lahan. Rp 60 juta per tahun pendapatan kelompok dari produk hutan dan eduwisata. 60 lebih warga memiliki keahlian dan pekerjaan.
800 wisatawan mengunjungi kawasan ini. Sumber mata air kembali aktif, menyuplai air bersih untuk 64 keluarga. Tidak ada lagi banjir dan longsor, serta kembali hadirnya spesies hewan endemik
Desa yang dulu masuk kategori kawasan tertinggal (3T), kini menjadi desa mandiri produktif.Kawasan ini adalah penyangga KEK Mandalika. Akses jalan masih menjadi tantangan – dari Bandara hanya berjarak 15 menit, namun waktu tempuh bisa mencapai 45 menit karena kondisi jalan. Meski demikian, geliat desa tak terbendung.
“Dari hutan rusak, kami bangkit. Kini kami punya pariwisata, pertanian, peternakan, dan pendidikan yang menyatu. Semua anak muda, ibu-ibu, dan bapak-bapak punya peran,” ujar Burhanuddin.
Dengan dukungan berbagai pihak dan semangat kolektif, KTH Bina Lestari tengah menapaki jalan menuju kemandirian penuh. Mimpi besar mereka adalah menjadi pusat pendidikan dan wisata berbasis alam yang mendunia, tanpa kehilangan akar lokal dan semangat gotong royong.
“Ke depan, kami ingin kawasan ini jadi contoh nasional. hutan lestari, rakyat sejahtera. Dan jadi destinasi wisata, wisata edukasi,” pungkasnya.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button