Puasa dan Pengendalian Nafsu

Ilham, M.Pd.B.I
(Wakil Ketua Pendidikan dan Kaderisasi Pemuda Muhammadiyah NTB)
Alhamdullilahillahirabbil ‘alamin. Salawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Pembaca yang beriman, dalam diri manusia ada dua sifat yang melekat, yaitu sifat fujur dan taqwa. Kedua sifat ini senantiasa menyertai alam pikiran dan kehidupan manusia. Sebagaimana Allah gambarkan dalam QS. Asy-Syams: 8 (maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya). Artinya, sikap dan sifat manusia laksana wadah bagi nilai-nilai yang diembannya. Jiwa bisa menjadi baik atau buruk tergantung nilai mana yang manusia pilih dan aktualisasikan. Momen bulan Ramadhan ini, tentunya menjadi ikhtiar kita untuk selalu menampakkan sifat taqwa pada setiap aktivitas, bukan justru lebih banyak dipengaruhi oleh sifat fujur yang membawa kita pada kemaksiatan.
Puasa yang kita jalankan harus memberikan kesan baik, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Sekalipun dalam hadits sudah dijelaskan bahwa (Apabila datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta semua setan dibelenggu) (HR Muslim)), kita tidak perlu merasa puas dan sombong, sehingga kita menjalankan puasa Ramadhan semaunya.
Pembaca yang beriman, perlu kita ketahui nafsu yang melekat dalam diri manusia dalam perspektif Al Qur’an yaitu nafs al-muthma’innah, nafs al-Lawwamah, dan nafs al-amarah bis su’u.
Pertama, nafs muthma’innah, merupakan nafsu yang telah mencapai ketenangan, dan dapat dikendalikan oleh akal yang sehat, sehingga bisa mendapat rahmat Allah Ta’ala. Manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat ridha Allah Ta’ala baik di dunia maupun akhirat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Fajr: 27-28 (Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.)
Kedua, nafsu lawwamah, merupakan nafsu ini sering mencela orangnya disebabkan ia telah melakukan kesalahan, baik dosa besar, dosa kecil, atau meninggalkan perintah, baik yang sifatnya wajib atau anjuran. Allah menegaskan dalam QS. Al-Qiyamah: 2 (Aku bersumpah dengan menyebut nafsu lawwamah.)
Ketiga, nafs amarah bis su’u, nafsu yang selalu mengajak pemiliknya untuk berbuat dosa, melakukan yang haram dan memotivasi pemiliknya untuk melakukan perbuatan hina. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam QS. Yusuf: 53 (Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).
Pembaca yang beriman, dari ketiga jenis nafsu di atas, kita sudah masuk dalam kategori yang mana? Apakah nafsu muthma’innah, nafsu lawwamah, atau bahkan nafsu amarah bi su’u. Semoga kita tetap dalam keadaan nafsu Muthma’innah, menunjukkan kesabaran dalam tugas sebagai hamba Allah. Sungguh sedih, sekiranya kita berada pada kategori lawwamah atau amarah bis su’u. Pada bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan kebaikan ini, mari kita senantiasa menjaga hati kita untuk selalu melakukan muhasabah, sehingga bisa evaluasi terhadap perjalanan kehidupan hati. Kita tidak bisa tebak, kapan hati kita bersih dan kapan hati kita dalam keadaan kotor. Dalam hadits sudah digambarkan tentang maksud hati, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Untuk itu, sangat perlu kita menjaga dan menyucikan hati kita, agar puasa kita dapat berjalan dengan sempurna. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy Syams: 9-10 (Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya (hati itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya).
Proses penjagaan hati pada bulan Ramadhan, perlu kita melakukan beberapa hal.
Pertama, saling memaafkan sebelum puasa dimulai, hal ini sebagaimana do’a Malaikat Jibril yang termuat dalam hadits Rasulullah SAW (Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut, tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada), tak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri, dan tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.). Kedua, membaca Al Qur’an, di mana bulan Ramadhan merupakan bulan diperingati sebagai turunnya Al Qur’an (Nuzulul Qur’an) dan apabila kita membacanya, dalam satu huruf akan diganti dengan 10 kebaikan.
Ketiga, bicaralah seperlunya, sebagaimana hadits dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda (Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras, HR. Tirmidzi). Inilah beberapa cara bagaimana menghindarkan diri dari nafsu yang berlebihan. Sahabat yang beriman, kata kunci dari kesuksesan dalam menjalankan ibadah puasa adalah kita mampu mengendalikan hawa nafsu dengan berbagai aktifitas yang tidak bermanfaat. Momen bulan Ramadhan hanya sekali dalam satu tahun. Untuk itu, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena belum tentu kita dapat berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang.



