Mataram (netlombok) –
Produksi padi di dalam daerah masih stabil. Seyogyanya, harga beras juga stabil.
Berdasarkan angka sementara luas panen dan produksi padi tahun 2023, data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi NTB perkiraan Januari – Oktober 2023 sebesar 1.382.003 ton Gabah Kering Giling (GKG). Dengan luas panen Januari-Oktober 2023 sebesar 273.793 hektar.
“Produksi padi kita masih stabil,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah B., SP, MM.
Hingga saat ini, panen menurutnya masih tetap ada. Namun, tidak sebesar panen pada saat musim puncak panen.
Naiknya harga beras di pasaran bukan karena rendahnya produksi. Mirza memperkirakan, kenaikan harga beras di pasaran akibat tidak terbendungnya pengusaha-pengusaha luar daerah yang masuk ke NTB membeli langsung gabah-gebah petani di lapangan. Ditebas, lalu diboyong ke luar. Hal ini terjadi saat puncak panen tahun ini, pada triwulan I, dan triwulan II tahun 2023.
“Kejadiannya dulu banyak gabah yang dibawa ke luar. Gabah tebasan. Pengusaha dari Jawa datang langsung beli, dan angkut. Menyebabkan harga beras pada saat itu naik,” ujarnya.
Pemerintah daerah sudah mengambil langkah. Membuat regulasi dengan membatasi gabah dibawa ke luar daerah. Sebab, ekonomi ikutan menjadi tidak bergerak. Mesin penggilingan di dalam daerah menjadi pasif, dedak hasil penggilingan tidak bisa didapat. Berimbas juga ke sektor lain, misalnya peternakan.
“Perekonomian tidak jalan. Akibat hasil produksi padi dibawa ke luar dalam bentuk gelondongan. Sekarang sudah dibatasi. Tapi masih ada. Saya turun ke UMKM beras di Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Kenapa harga beras naik? Kata mereka, karena masih adanya hasil produksi petani kita dibawa ke luar dalam bentuk gabah,” kata Mirza.
Seharunya, ditutup total pengiriman gabah ke luar daerah. Kecuali beras, tidak bisa diatur karena masuk komoditi bebas. Menurut Mirza, tinggal otoritas tegas. Menja pintu-pintu ke luar. Hal ini menurutnya sangat penting sebagai antisipasi agar daerah penghasil pangan ini tidak kesulitan masyarakatnya mendapatkan bahan pangan.
Faktor lain dari kenaikan harga beras adalah tingginya biaya produksi akibat tingginya harga pupuk. Obat-obatan, dan biaya buruh tani.
“Tinggal dilihat. Kalau yang menikmati harga tinggi adalah petani, ndak masalah. Kalau yang menikmati harga tinggi adalah tengkulak, masalahnya ada pada konsumen, kasian juga kalau harga beras tinggi,” demikian Mirza.(DLN)



