Mataram (netlombok) –
Ketua umum Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI), Lalu. Ahmad Zaini, ST.,MT mendorong masyarakat dan pemerintah untuk memperbanyak sumur resapan sebagai persedian untuk mengatasi musim kering yang melanda setiap tahun.
Sumur resapan dimaksud, dapat berupa sumur-sumur yang biasa dibuat oleh masyarakat, atau sumur buatan lainnya.
“Kekeringan ini tidak bisa kita hindari. Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan penanganan jangka panjang. Misalnya dengan memperbanyak sumur-sumur resapan. Karena setiap tahun terjadi kekeringan apabila masa kekeringannya panjang, otomatis panjang juga penangananya,” ujarnya, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (4/10/2023).
Khususnya di Lombok seperti saat ini, menurut Lalu Zaini, musim kemaraunya diperkirakan panjang. Disisi lain, kebutuhan air itu semakin meningkat, sementara ketersediaan sumber daya air itu semakin berkurang.
Oleh sebab itu, kata Zaini yang juga Dirut PT Air Minun Giri Menang (Perseroda) ini mengajak semua pihak berkolaborasi untuk memanfaatkan lahan yang dimiliki agar dapat difungsikan secara optimal untuk membuat sumur resapan.
“Sekarang kita harus sudah berfikir bagaimana air hujan ini bisa masuk ke tanah, jangan semua terbuang ke laut. Prinsipnya adalah, bagimana caranya memasukkan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah untuk cadangan air masa yang akan datang,” tandasnya.
Lalu Ahmad Zaini menilai, Lombok ini dari waktu ke waktu penduduknya trus meningkat. Luasan areal yang dulunya hutan kini sudah berubah tata gunanya karena kebutuhan akan tempat tinggal. Maka menurutnya penting ada kebijakan didalamnya untuk mengelola air dengan sebaik-baiknya.
“Betul juga Langkah-langkah pemerintah memperbanyak bendungan di Lombok khsusunya agar bisa menampung air hujan. Problemnya adalah, begitu musim hujan terlalu banyak air hujan yang terbuang ke laut. Maka ini sudah yang perlu kita atur agar tidak terlalu banyak air yang terbuang ke laut,” imbuhnya.
Selain itu, Lalu Zaini juga memaparkan akses infrastruktur perpipaan air di Indonesia yang baru mencapai 20 persen. Artinya, 80 persen Masyarakat belum terakses fasilitas air minum. Hal ini juga memicu rentannya terjadi kekeringan pada suatu wilayah.
“Apalagi di NTB, bisa jadi kurang dari 20 persen akses air bersihnya. Saya pernah diskusi sama Wapres tentang konsep pengelolaan air. Negara atau pemerintah harus hadir disini, kita lihat kesehatan punya alokasi anggaran, pendidikan punya alokasi anggaran, desa punya alokasi anggaran. Sementara air ini kan urusan pokok yang mendasar, tidak ada air kan repot, bagaimana alokasinya anggarannya. Belum besar perhatiannya,” ungkap Lalu Zaini.
Untuk itu, penting sekali adanya kolaborasi antar semua pihak, karena urusan air ini tidak bisa diserahkan kepada operator (PDAM) saja, tetapi semua pihak harus hadir.(DLN)



