Mataram (netlombok)-
Penjabat Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M. Si melakukan pemantauan harga di pasaran, menindaklanjuti direktif Presiden Joko Widodo kepada seluruh penjabat kepala daerah untuk menjaga stabilitas harga, terutama pangan.
Pj. Gubernur di dampingi Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, David Susanto, Asisten II Seta NTB, Dr. H. Fathul Gani, M. Si, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, H. Abdul Azis, SH.,MH, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, ST.,M. Si, dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB lainnya.
Pemantauan harga dilakukan Rabu (1/11/2023) di Pasar Mandalika, Kota Mataram yang merupakan pasar induk terbesar di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah provinsi NTB melalui Tim TPID melakukan berbagai langkah strategis dalam menstabilkan harga beras dipasaran. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga inflasi.
Penjabat Gubernur NTB Drs. Haji Lalu Gita Ariadi menegaskan bahwa operasi pasar salah satu upaya yang ditempuh untuk menjaga daya beli masyarakat terlebih menekan terjadinya inflasi akibat harga beras dipasaran.
“Menindaklanjuti direktif bapak presiden pada saat mengumpulkan para PJ Kepala Daerah di Istana Negara dengan salah satu tugasnya adalah bagaimana melakukan pengendalian inflasi, memastikan ketersediaan bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat. Tadi kami sudah mengecek beras dan lain sebagainya, komoditi-komoditi yang lain seperti harga bawang merah dikisaran 13 ribu hingga 15 ribu perkilogram dan bawah putih 28 ribu hingga 30 ribu perkilogram, kemudian cabai seharga 50 ribu hingga 60 ribu rupiah perkilogram,” ujarnya, Rabu (1/11), bersamaan dengan kegiatan Operasi Pasar Murah bersama Tim TPID NTB Provinsi NTB di Pasar Mandalika Cakranegara Kota Mataram.
Gita mengatakan saat ini terjadi pergerakan kenaikan harga namun masih dalam kondisi normal. Bahkan stok yang ada dari hasil pantauannya kebutuhan komoditi-komoditi itu tersedia dengan memadai. Beras yang dijualpun kualitasnya sangat bagus dengan harga jual terjangkau yang didistribusikan oleh Bulog NTB. Karena itu, ia memastikan situasi cukup kondusif.
Sementara itu, Pimpinan Wilayah (Pimwil) BULOG NTB David Susanto menyebutkan, sejak Januari hingga awal Oktober 2023 ini, Perum Bulog NTB telah menggelontorkan sekitar 17 ribu ton beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) di seluruh NTB dalam rangka stabilisasi harga beras di pasar. Tingginya penyaluran beras SPHP ini tidak berdampak terhadap stok yang dimiliki mengingat stok yang ada di gudang Bulog NTB sebanyak 19 ribu ton.
Stok beras ini disiapkan untuk program-program strategis pengendalian harga pangan. Stok tersebut mencukupi hingga Januari maupun Februari 2024 mendatang.
“Dalam seminggu kita dua kali mendroping beras SPHP ke pasar baik itu Mandalika, Kebon Roek dan pasar lainnya di NTB. Kalau di Pasar Mandalika pada hari Senin dan Rabu, terdapat 17 titik pedagang yang kita drop, rata-rata dua truk atau 2 ton beras SPHP,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kegiatan SPHP dilakukan di 41 pasar se NTB dan 201 riteller yang berada di dalam kawasan pasar atau toko-toko di luar pasar. Harga beras SPHP di NTB maksimal yaitu Rp10.900 per kg sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Tak boleh dijual lebih dari HET ya. Kalau ada pedagang yang menjual di atas HET saya akan stop dan tak akan saya kasi lagi. Malahan kita harapkan dijual dibawah HET,” tegas David.(DLN)



