Imbas Anjloknya Harga Vanilli di Lombok Barat, Petani Beralih Tanam Durian
lombok (netlombok)-
Harga vanili ditingkat petani di Narmada, Kabupaten Lombok Barat anjlok. Bahkan sampai level Rp50.000 perkilo basah. Akibatnya, petani memilih beralih ke tanaman buah lainnya yang lebih menjanjikan, salah satunya durian.
Vanili di Dusun Kumbi sudah dikembangkan oleh masyarakat setempat sejak tahun 1990-an. Saat itu, mereka mendapatkan suplay bibitnya dari pemerintah daerah setempat.
Awalnya, hanya ditanam di pekarangan. Namun berkembang, tanaman vanili diperluas ke Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) di wilayah setempat.
Salah seorang petani vanili, sekaligus Ketua Kelompok Wana Abadi, Dusun Kumbi, Supardi menjelaskan, di kelompoknya ini ada 120 petani penggarap kawasan hutan. Seluruhnya menanam vanili.
Dulunya, masyarakat setempat menurutnya sangat tergiur dengan hasil dari menanam vanili. Sebab harganya berdasarkan informasi yang beredar bisa sampai Rp250.000 perkilo.
Vanili sendiri adalah tanaman tumpang sari. Bisa tumbuh dan merambat pada batang pohon di sekitarnya. Petani setempat tidak melakukan pemupukan, ataupun penyemprotan dengan insektisida.
“Kami tidak memupuk, atau menyemprot. Kalau menggunakan pupuk malah busuk. Hanya kami melakukan pembersihan gulma saja,” terang Supardi.
Belakangan harga vanili semakin tidak lagi semenarik aromanya. Harganya anjlok, bahkan sampai Rp50.000 perkilo basah. Selain itu, kata Supardi, belakangan vanili yang ditanam diserang penyakit busuk batang.
“Dengan harga seperti ini apa kita dapatkan. Kita mau jual kemana. Kita sangat mengharapkan pemerintah melakukan pembinaan kepada kami. Kalau ada penyakit begini bagaimana cara mengatasinya. Kalau sudah panen kita jualnya kemana,” katanya.
Karena dianggap sebagai komoditas yang tak lagi menjanjikan, Supardi mengatakan, petani vanili sudah beralih ke tanaman buah lainnya. Durian yang dianggap paling menjanjikan.
“Dari pada tidak ada kejelasan kita menanam vanili, kita beralih ke pohon buah durian,” demikian Supardi.
Petani lainnya, Haji Andi, juga mengeluhkan persoalan yang sama. Baru-baru ini ia menjual vanili hasil panennya. Harga jualnya dianggap rendah, hanya Rp75.000 perkilo basah. Karena harganya yang rendah ini, petani vanili bahkan tak berminat memanen.
“Kita dikasitahu, sudah tidak ada lagi bos-bos yang beli vanili. Makanya sampai tiga bulan kita tidak panen. Dibiarkan buahnya pecah begitu saja, saking tuanya,” katanya.
Kendati demikian, petani masih tetap memiliki harapan dan tetap menanam vanili. Karena relative tidak membutuhkan biaya. Cukup hanya rutin dilakukan pemeliharaan dengan membersihkan gulma disekitar batang.
Ia juga berharap, pemerintah sebagai pembina agar turun melakukan pendampingan kepada petani.(DLN)



