Ekonomi

Kepala BI : Sangat Terkesan Bertugas di NTB

Lombok (netlombok)-

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Heru Saptaji pindah tugas ke Bank Indonesia DIY. Hampir tiga tahun berkhidmad di Nusa Tenggara Barat, sejak efektif bertugas di Provinsi Bumi Gora ini pada Agustus 2020 lalu.

Heru Saptaji mengaku bangga, bahagia ditugaskan di Nusa Tenggara Barat. Ia mengatakan sangat nyaman bertugas disini. Didukung seluruh unsur, termasuk unsur media yang memiliki semangat dan visi misi yang sama membangun daerah ini.

Menurutnya, tidak pantas kalau ini tidak berkembang seadanya. Karena daerah ini memiliki struktur ekonomi yang lengkap. Dan tidak ditemukan di daerah lain.

“Saya sudah tugas disejumlah daerah di Indonesia. Temen-temen di daerah ini lengkap lho. Secara struktur ekonomi lengkap,” katanya mempertegas.

Dalam diskusi di kantor Bank Indonesia NTB di Mataram, Senin (10/7) kemarin, Heru Saptaji mengatakan, stukrur ekonomi ini didukung oleh sektor pertanian di Provinsi NTB memberi kontribusi cukup besar, bahkan mendominasi dalam PDRB. Antara 21-22 persen.

Sektor pertanian ini dalam arti luas mencakup pertanian, perkebunan, kelautan perikanan, peternakan. Pertanian pangan, NTB penghasil beras dan jagung andalan nasional. Sektor perkebunannya, NTB memiliki potensi penghasil tembakau, ditambah vanili yang potensi pasarnya di luar negeri sangat besar.

“Salah satu aggregator vanili di NTB yang kita juga bina, sudah mendapatkan pesanan ratusan miliar, asal sanggup. Apalagi kalau sampai ada hilirisasi menjadi tepung vanili, makin dahsyat itu dampaknya. Belum lagi kopi, dan yang lain-lainnya,” jelas Heru.

Begitu juga peternakan dan perikanannya, hasil-hasil NTB bisa diandalkan. Bahkan perikanan tangkap dan budidayanya adalah komoditas ekspor. Seperti mutiara, tuna, dan lainnya.

Selain itu, sektor pertambangan di NTB juga cukup besar. Ada tambang konsentrat di kawasan tambang Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat.  Kemudian sedang dibangun kawasan industry smelter untuk pemurnian. Industry ikutannya juga akan memberikan dampak ekomomi yang cukup besar kedepannya.

“Di Dompu juga ditemukan potensi komoditas tambang yang sedang digarap. Dan potensinya katanya lebih besar dari yang ada sekarang,” katanya.

Heru Saptaji juga menyebut komposisi struktur ekonomi lainnya yang juga tak kalah besar adalah sektor perdagangan besar dan eceran. Didalamnya sudah termasuk kegiatan ikutan pariwisata. Ada KEK Mandalika.

“Kalau pariwisata ini otomatis reborn, coba lihat Senggigi, okupansi hotel sudah diatas 87 persen . di Mandalika okupansi rate (hotel) hampir seratus persen. Di Lombok Timur Sembalun (Gunung Rinjani) reborn,” paparnya.

Tingkat kunjungan wisatawan ke Sembalun sudah cukup ramai. Banyak sekali menurutnya yang bisa di eksplore di Sembalun, sektor pertaniannya, spot wisatanya.

“Sembalun sudah kita desain juga menjadi integrated tourism. Kalau jadi, besar itu kue ekonominya. Sembalun itu prosespeknya luar biasa menurut saya” tambah Heru.

Belum lagi, kata Heru Saptaji, industry kriyanya di NTB juga makin menggeliat. Produk-produk UMKM khususnya fashion semakin menunjukkan kualitasnya. Industry turunan fashion ini juga cukup banyak.

Dibanding dengan daerah lainnya yang hanya mengandalkan pariwisata saja, saat terjadi tekanan di sektor ini, guncangannya menjadi berat. Lain hanya dengan Provinsi NTB, jika satu sektor terganggu, masih ada sektor-sektor penopang potensial lainnya.

“Makanya saat COVID-19, dampaknya di NTB sangat kecil. Bandingkan dengan daerah lainnya. Karena itu, tinggal manajemen pengelolaannya saja,” demikian Heru Saptaji.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button