Lombok (netlombok) –
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) gencar menyuarakan Merdeka Belajar, namun tidak halnya kepada puluhan siswa sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Jenggala, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), belajar dalam kondisi sungguh memprihatinkan, mereka belajar di sebuah bedek bambu atau pagar bambu beratap daun kelapa berlantai tanah.
Mereka terpaksa belajar di ruang tidak layak tersebut, pasalnya gedung sekolah mereka hancur akibat gempa terjadi pada lima tahun silam dan hingga saat ini tak kunjung diperbaiki.

Salah seorang guru SDN 1 Jenggala Eko Adrian mengatakan pasca gempa tepatnya tahun 2019, hanya mendapatkan dua lokal raungan yang di bangun, karena jumlah ssiw ayang cukup banyak, sehingga pihak sekolah bersama masyarakat untuk membangun ruang sekolah dengan bedek bamboo atau pagar bambu.
“Cuman di bangunkan dua lokal dari Rumah Instan Sehat Sederhana (Risha) itu, akhirnya yang lain kita pikirkan kita undanglah orang tua semua orang wali itu, kita ajak untuk diskusi akhirnya kita sepakat Gedung (Bedek bambu),” ungkapnya.
Lebih lanjut Eko menuturkan, karena masih minimnya ruang kelas, sementara siswa banyak, mulai kelas satu hingga kelas enam, membuat pihak sekolah dan orang tua siswa, bersama-sama mebangun ruang kelas untuk anak-anak mereka, demi untuk belajar.
“Bahkan uangnya pun dari mereka, kita bersama-sama, kita dari dana bantuan operasi sekolah (BOS) pokoknya secara swadaya begitu, ini usianya liam enam tahunan dari 2019 hingga 2023 sekitar lima tahun,” tuturnya.
Selain itu, pihak sekolah sebelumnya telah memprediksi, ruang kelas dari bedek bambu itu, akan tidak efektif belajar para siswa, terlebih kondisi ruang kelas mereka jauh dari kata layak.
“Sebenranay kita sudah menduga pasti akan terkendala kelas-kelas yang berdekatan ini kan saling melihat bahkan di sebelahnya itu kalau sudah selesai belajar agak mengganggu sebelahnya juga kita melihat bahan-bahan kayak bambu ini tidak akan bertahan lama, tembok aja bisa jebol apalagi bambu ini, memang agak terganggu,” ujarnya.
Sementara itu, ruang kelas yang sudah di bagun ada dua lokal, yaitu satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan satu ruangan perpustakaan yang juga digunakan untuk proses aktivitas belajar mengajar.
“Pasca gempa memang kita dibangunkan tapi bukan dari ruang kelas baru (RKB) di bangun ruang UKS satu dan ruang perpustakaan yang itu kita gunakan untuk belajar juga, pasca gempa itu ada dua RISHA yang di sebelah utara itu untuk kelas satu dan dua, sementara yang sisianay itu yang kita buat ini,” jelasnya.
Lanjut Eko, sekolahnya rencana akan dibangun tahun depan, bahkan pihak sekolah mendapatkan bantuan rehab dari dana aspirasi anggota Dewan yang nilainya 200 juta rupiah.
“Memang ini dijanjikan di bangun tahun depan dan sekarang ini lagi proses ada dari Pokirnya dewan dana aspirasi sekitar 200 juta untuk rehab ini, kalau koordinasi sama dinas sudha bagus sih , sudah kita dijanjikan bahkan sudah di siapkan tempat ini sebagai prioritas,” pungkasnya.
Salah seorang siswa kelas enam, Nina mengaku ia setiap hari belajar di ruang yang jauh dari kata layak tersebut, bahkan jika musim hujan ruang kelas mereka tergenang banjir.
“Di tempat sementara itu dulu dua bulan, kalau di sini mulai kelas dua sampai kelas enam, sekarang tiap hari belajar di sini, kalau musim hujan selalu banjir dan bahkan basah,” ucapnya.
Nina berharap, ia dan siswa lainnya agar sekolahnya segera dibangun, agar sia belajar dengan layak, seperti sekolah pada umumnya.
“Pengen sekali dapat ruang sekolah yang lebih layak buat di tempati biar dapat belajar lebih tenang seperti siswa lain pada umumnya,” harapnya.
Pembangunan Gedung sekolah rencananya akan dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Lombok Utara dengan anggaran tahun 2024.(TAL)



