Mataram (netlombok)-
Jumlah sampah laut yang berhasil dikumpulkan oleh masyarakat pesisir Ampenan, Kota Mataram tercatat paling tinggi di Indonesia, berkat Kerjasama kolektif masyarakatnya, pemerintah kecamatan dan kota Mataram, dan stakeholder terkait lainnya.
Selama bulan Agustus 2023 ini, Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) menyelenggarakan gerakan nasional Bulan Cinta Laut (BCL). Se Indonesia, ada 18 titik yang menjadi lokasi pelaksanaan gerakan ini. Salah satunya di Pesisir Ampenan, Kota Mataram.
Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhammad Yusuf, S. Hut., M.Si di Mataram, Jumat (25/8/2023) mengemukakan, hasil evaluasi BCL 2023, sampah laut yang terkumpul di Ampenan mencapai 15 ton.
“Gerakan pengumpulan sampah di Ampenan ini cukup diapresiasi,” ujarnya.
Yusuf mengatakan, gerakan nasional BCL ini adalah kegiatan stimulant untuk mendorong Masyarakat untuk menjaga lingkungannya. Harapannya, pengumpulan sampah laut bisa dilakukan secara konsisten.
Lebih menariknya di Kecamatan Ampenan ini, sampah-sampah yang dikumpulkan oleh Masyarakat dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan. Sampah-sampah plastic misalnya, dapat dijual langsung kepada off taker, diantaranya Bank Sampah, atau dari LSM yang bisa mendaur ulang sampah.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2018 tentang penanganan sampah laut dan turut disusun dalam Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN-PSL) tahun 2018-2025 yang memberikan arahan-arahan strategis bagi 20 kementerian/lembaga terkait. Dalam penanggulangan sampah di pesisir dan laut, KKP menginisiasi upaya kolektif bersama nelayan melalui Aksi Bulan Cinta Laut atau yang disebut BCL.
Aksi Bulan Cinta Laut dilaksanakan pada Bulan Agustus tahun 2023, melibatkan peran sentral dari Pemerintah Daerah, Mitra/NGO, Komunitas Penggiat Sampah dalam upaya untuk mengedukasi kesadaran nelayan dan masyarakat serta mengkampayekan pentingnya menjaga laut agar tetap bersih sehingga ekosistem laut menjadi sehat.
Sementara itu, Camat Ampenan, Kota Mataram, Muzakkir Walad, S.STP mengatakan, gerakan BCL ini menurutnya sudah dilaksanakan di Ampenen sejak dicanangkan tahun 2022 lalu. Kegiatannya sederhana, Masyarakat bergotong royong, dan pemerintah kecamatan juga mendorong partisipasi nelayan.
Nelayan menurutnya tidak hanya sekedar melaut, tetapi mereka memiliki tanggungjawab sosial. Salah satunya sambal melaut, ketemu sampah, dipungut dan dikumpulkan di darat untuk ditangani.
“Ini yang akhirnya kita jadikan gerakan kolaborasi. Selain nelayan, kita libatkan kader, karang taruna, ada Pokmaswas juga,” ujarnya.
Agar Masyarakat yang mengumpulkan sampah plastic mendapat manfaat secara ekonomis, hasil pengumpulan sampah plastiknya dijual ke bank sampah. Sehingga selain terbangun gerakan sadar menyelamatkan lingkungan, Masyarakat juga memiliki sumber pendapatan tambahan.
Lanjut Muzakkir, besarnya volume sampah dipengaruhi oleh adanya empat sungai yang bermuara ke perairan di Kota Mataram, yaitu muara Sungai Jangkuk, Sungai Meninting, Sungai Berenyuk dan Sungai Ancar.
“Sehingga persoalan sampah ini juga menjadi antensi serius kami,” demikian Muzakkir.(MDE)



