Mataram (netlombok)-
Vanili adalah salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis sangat tinggi. Pasarnya sangat terbuka di luar negeri. Belum banyak yang mengembangkannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, vanili sudah dibudidayakan oleh petani. Namun tidak dilakukan secara optimal. Seghingga hasilnya juga tak optimal.
Padahal, menurut Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram drh. Arinaung, dari sebatang pohon vanili, petani bisa menghasilkan Rp200 ribu, hingga Rp500 ribu setahun. Jika dihitung petani membudidayakan 1.000 batang vanili, dengan kebutuhan lahan hanya 20 are (2.000 meter persegi), artinya petani sudah bisa menghasilkan Rp200 juta, hingga setengah miliar setahun. Atau sekitar Rp15 juta sebulan rata-rata. Hasilnya sangat bisa menjadikan petani Sejahtera.
Namun, menurut Arinaung, persoalan yang terjadi di lapangan adalah, petani belum mampu menghasilkan nilai seperti yang dihitung. Karena petani vanili di NTB masih tradisional, belum tersentuh teknologi. Sehingga produktivitas yang dihasilkan rendah, mutu vanilinya juga rendah.
“Harga jualnya juga rendah,” ujarnya.
Karena besarnya potensi vanili yang belum digarap optimal oleh petani ini, Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram intensif mengedukasi petani, dan melakukan pendampingan kepada petani. Bekerjasama dengan sejumlah stakeholder, salah satunya Bank Indonesia.
Pendampingan yang dilakukan sejak tahun 2019 akhir lalu salah satunya kepada salah satu pegiat petani yang saat ini sekaligus menjadi offtaker dan eksportir vanili, UD. Rampah Organik di Sakra, Lombok Timur yang juga intensif melakukan pendampingan kepada masyarakat yang membudayakan petani.
Hasilnya mulai nampak. Tahun 2020 lalu, ekspor vanili organik NTB sebanyak 1, 5 ton kering. Tahun 2021 meningkat menjadi 2,4 ton . tahun 2022 menjadi 3,5 ton. Dan tahun 2023 ini rencananya akan diekspor sebanyak 6 ton. 3,6 ton sudah diekspor.
Arinaung menambahkan, budidaya vanili tidak membutuhkan teknologi tinggi. Dan tidak terlalu spesial perlakukannya. Biayanya juga rendah. Karena itu, ini peluang yang bisa digarap oleh petani, atau siapapun yang memiliki lahan untuk dimanfaatkan menanam vanili.
“Potensi vanili ini bisa dikembangkan dari Ampenan sampai Sape. Kita juga siapkan tim, kalau ada petani yang mau membudidayakan vanili, kasitau saja. Kita akan dampingi,” imbuhnya.
“Kami melakukan (pendampingan,red) karena tadi, petani kita belum paham. Maka kami door to door siapapun petani yang ingin berkebun vanili organik kami pasti datang. Lalu hasilnya siapa yyang akan membeli, sudah ada offtakernya di Lombok, berapapun hasil petani, pasti dibeli. Karena permintaan luar negeri sangat tinggi,” ujarnya.
Sementara untuk bibit vanili yang ada di NTB, lanjut Arinaung, sementara ini masih menggunakan bibit lokal yang kualitasnya belum sepenuhnya bagus. Oleh karena itu pihaknya mengajak ahli vanili dari Balai Standrasisai Instrument Pertanian (BSIP) dan TROA (balai penelitian tanaman rempah dan obat).
“Ahli vanili nanti yang mengajarkan bagaimana kita pengembangan pembibitan, budidaya vanili di NTB kita ajak dari luar (ahli vanili,red). Insya allah nanti tanggal 30 ini kita melakukan evaluasi yang sudah kita lakukan selama ini dan menyusun progam kedepan. Makanya kita hadirnya para ahli vanili dari luar,” demikian Arinaung.(DLN)



