Pj. Gubernur Ajak Gunakan Batik Gembok, Ini Kata Pegiat Batik Sasambo
Mataram (netlombok)-
Sejak dilantik menjadi Penjabat Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi kerap menjadi perbincangan karena beberapa pandangan dan arah kebijakannya dianggap nyentrik. Yang terbaru adalah, ajakannya untuk menggunakan batik gembok di hari batik nasional 2023.
Lalu Gita bersama istrinya menggunakan batik Gembok saat menghadiri peringatan Hari Batik Nasional di Istana Negara Jakarta, pada Minggu (1/10/2023).
Batik gembok adalah batik brand baru yang dikembangkan oleh SMK 5 Mataram bekerjasama dengan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Mataram.
Kusman Jayadi, salah satu pegiat Batik Sasambo (Sasak, Samawa, Mbojo) di Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur berpandangan. Ajakan Pj. Gubernur seolah menghilangkan histori dan makna dari Batik Sasambo.
Diketahui, Batik Sasambo diluncurkan oleh kepemimpinan Gubernur NTB, Dr. H. Zainul Majdi, dengan Badrul Munir, tahun 2010 lalu. Sasambo adalah makna perwujudan tiga suku besar yang menghuni Nusa Tenggara Barat. Sasak di Lombok, Suku Samawa di Sumbawa, dan Suku Mbojo di Bima dan Dompu.
Kusman mengatakan, Batik Sasambo sudah dikenal brandnya hingga ditingkat nasional. Dorongan untuk menggunakan batik lokal pada ASN dihari-hari tertentu dalam sepekan juga sudah melekat penggunaan batik Sasambo. Rumah produksi Batik Sasambo juga sudah berkembang di dua pulau di Nusa Tenggara Barat.
“Kalau digaungkan batik brand lain lagi, seolah kita memulai dari baru lagi. Padahal, Batik Sasambo sudah memiliki HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Pemprov NTB,” ujarnya.
Lain halnya misalnya batik gembok adalah bagian dari Batik Sasambo, atau brand batik Sasambo dari salah satu rumah produksi batik lokal. Menurutnya tak menjadi persoalan.
“Kalau yang dipromosikan batik Gembok (Gemari Batik Lombok), lantas bagaimana dengan produksi batik Sasambo yang sudah berjalan dan menjadi kesatuan tiga suku Sasak di NTB,” katanya.
Di Kabupaten Lombok Timur Sendiri, Batik Sasambo yang diproduksinya sudah makin diterima masyarakat. Kusman sudah melakukan pemberdayaan dengan pelatihan-pelatihan membatik Sasambo. Bekerjasama dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Lombok Timur. Dan sekolah umum lainnya. Rumah produksi batiknya juga sudah memperkerjakan Sembilan orang yang menggantungkan hidupnya dari hasil membatik Sasambo.
“Kalau dimulai dengan brand lain lagi, berarti dari awal lagi. Melatih orang-orang yang sedang bersemangat mengembangkan batik Sasambo. Memperkenalkan brandingnya lagi, dan promosi-promosi baru lagi,” tambahnya.
Ditingkat nasional, Batik Sasambo juga sudah dikenal sebagai batik khas Nusa Tenggara Barat. Kusman Jayadi sendiri pernah diundang sebagai pemateri di Balai Besar Batik Jogja. Khusus membahas tentang Batik Sasambo.
Jika pemerintah kemudian menggaungkan batik brand lokal yang lain lagi, menurut Kusman, ini bisa membingungkan lagi pasar. Bahkan orang lokal. Belum lagi kemungkinan dampaknya terhadap para pelaku batik Sasambo lokal dan pekerjanya.
“Saya pribadi berharap, kenapa tidak lanjutkan saja Batik Sasambo. Mumpung kita sudah terkenal, dan sudah memiliki nama,” demikian Kusman.
Pemilik rumah batik Sasambo Rembitan, Lombok Tengah, Samsir sendiri belum mengatui apa itu Batik Gembok. Menurutnya, apapun nama batik baru yang dimunculkan di NTB, tetap tidak akan menghilangkan semangatnya untuk melestarikan Batik Sasambo.
“Batik Sasambo ini yang pertama di NTB, sudah sudah masuk ke darah saya. Mau batik apapun yang dimunculkan, saya tidak akan meninggalkan Batik Sasambo,” katanya.
Batik Sasambo produksinya sudah cukup dikenal. Ia bahkan kerap menerima pesanan besar untuk seragam. Misalnya, ratusan lembar pesanan dari Unram, ratusan lembar pesanan dari UIN, ratusan lembar pesaran dari sekolah-sekolah. Artinya, Batik Sasambo sudah memiliki branding.
“Apapun namanya mau dibuat, kalau didukung kebijakan oleh pemerintah, pasti bisa besar. Batik Sasambo itu menggambarkan NTB. Kalau Gembok, berati menonjolkan lokal Lombok. Ya kita jalan sendiri-sendiri saja kalau begitu,” demikian Samsir.(DLN)



