Headline

Tiga Nama Mantan Gubernur NTB akan Dijadikan Nama Ruas Jalan, Berikut Sejarahnya

Mataram (netlombok)-

Tiga mantan Gubernur NTB akan dijadikan namanya sebagai nama ruas jalan nasional di Pulau Lombok. Penyematan nama ini merupakan bentuk penghargaan kepada para pemimpin-pemimpin NTB sebelumnya.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB, H. Lalu M. Faozal, Selasa (12/12/2023) di kantornya, menyebut nama-nama mantan Gubernur NTB yang akan disematkan sebagai nama jalan diantaranya :

Ruas jalan Bypass BIL II (7.8 km) Tugu Mataram Metro – GMS (Giri Menang Square) Gerung akan dinamai jalan. AR. Muhammad Ruslan Tjakraningrat.

Ia adalah Gubernur pertama di NTB. Lelaki kelahiran Madura, 17 Oktober 1913 ini memimpin NTB sejak 1 November 1958 hingga 23 September 1968. Saat itu, situasi nasional belum stabil. Dalam masa transisi dan situasi masih labil itulah, Aria Raden Mohammad Ruslan Tjakraningrat berhasil meletakan pondasi pemerintahan yang baik di NTB.

Dalam kepemimpinannya, ia dikenal dengan program Pembangunan Regional Semesta Berencana. Ia juga seorang gubernur yang membidani lahirnya Universitas Mataram. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat , gerakan pemberantasan buta huruf saat itu sangat digalakan. Selain Pendidikan, sektor pertanian, dan peternakan juga menjadi perhatian khusus Aria Raden Mohammad Ruslan Tjakraningrat. Ia adalah gubernur pertama peletak tonggak pembangunan daerah NTB.

Kemudian ruas jalan Bypass BIL I (30,4 KM) GMS Gerung – Bundaran BIZAM , usulan penamaan jalan adalah H. R. Wasita Kusumah. H. R. Wasita Kusumah

H. R. Wasita Kusumah adalah Gubernur kedua di NTB. Lelaki kelahiran Tasikmalaya, 10 Agustus 1929 ini secara resmi menjabat gubernur sejak 28 September 1968 hingga 30 Agustus 1978. Mengawali kepemimpinannya, sejumlah wilayah di NTB saat itu mengalami kelaparan dan kekurangan pangan. Khususnya wilayah selatan pulau Lombok akibat gagal panen dalam periode yang sangat lama.

Untuk mengatasi kelaparan dan kekurangan pangan, ia pun meluncurkan Program Lumbung Paceklik yang kemudian dibangun di setiap desa. Selain itu, ada juga Program Lumbung Kemakmuran di setiap kecamatan. Seiring dengan itu, secara nasional pemerintah menggulirkan program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I yang akan mengakibatkan situasi mulai terkendali.

Titik berat pembangunan Repelita I adalah diletakan pada pembangunan sektor pertanian. H. R. Wasita Kusumah pun menerapkan Gerakan Operasi Tekad Makmur untuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya beras bagi masyarakat. Pada Repelita I era Presiden Soeharto, NTB mendapatkan bantuan bulgur untuk mengatasi kelaparan. Saking perhatiannya terhadap sektor pertanian, H. R Wasita Kusumah juga lebih dikenal dengan sebutan “Gubernur Petani”.

Untuk mendukung pembangunan pertanian, ia mulai menggagas membangun Bendungan Batujai yang berada di Kabupaten Lombok Tengah. Melalui pembangunan Bentungan Batujai dihajatkan dapat mengairi lahan-lahan pertanian yang tadinya tadah hujan, menjadi lahan pertanian yang lebih produktif dengan system irigasi teknis.

Pembangunan Bendungan Batujai selesai dan resmi beroperasi pada 1982. Selain itu, juga dilakukan rehabilitasi saluran irigasi Jurang Sate yang mampu mengairi lahan seluas 10 ribu hektar. Di era Wasita Pula, Bank Pembangunan Daerah yang kini dikenal bernama Bank NTB resmi berdiri.

Kemudian, Jalan Bypass BIL Mandalika (17,3 KM) dari Bundaran BIZAM – Bundaran  Songgong , usulan penamaan jalan  Jalan. H. Gatot Suherman.

H. Gatot Suherman secara resmi menggantikan H. R. Wasita Kusumah sebagai Gubernur NTB pada 30 Agustus 1978. Pria kelahiran Jogja 1 Januari 1929 ini adalah gubernur ketiga diberikan amanah memimpin NTB. Memangku jabatan gubernur selama dua periode, mulai 30 Agustus 1978 hingga 30 Agustus 1988.

Di kepemimpinannya, H. Gatot Suherman masih menghadapi masalah rawan pangan. Untuk mengatasi masalah itu maka ia mulai dengan berbagai gerakan. Antara lain bimbingan massal bagi para pemilik lahan tadah di seluruh NTB. Ketika kekeringan terjadi ia bahkan melakukan proyek hujan buatan selama 12 hari untuk mengatasi kekeringan dan menyelamatkan pangan masyarakat.

Visi utamanya adalah menjadikan Provinsi NTB sebagai lumbung beras nasional. Untuk mencapai visinya tersebut, maka H. Gatot Suherman meningkatkan produktivitas lahan pertanian teknis dengan penerapan panca usaha pertanian. Termasuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian tadah hujan yang dikenal dengan pola tanam “Gogo Rancah”. Saat itu, realisasi Gogo Rancah (Gora) mencapai 26.988 hektar lahan pertanian. Tahun itu pula, Presiden Soeharto didampingi ibu negara melakukan panen raya Gogo Rancah di Truwai Lombok Tengah.

Keberhasilan Gatot Suherman dalam menghantarkan NTB dari daerah minus pangan menjadi surplus pangan membuat NTB dikenal sebagai daerah lumbung beras dengan sebutan “Bumi Gora” Dunia Internasional juga turut memberikan penghargaan atas prestasi tersebut dengan mengundang Presiden Soeharto dan Gubernur Gatot Suherman ke sidang FAO (Food Association Organization atau Organisasi Pangan Dunia). Di Era H. Gatot Suherman pula, NTB juga mulai dikenal sebagai daerah penghasil Mutiara laut selatan terbaik. Hal ini ditandai dengan panen perdana mutiara di perairan di Pulau Sumbawa.

Sementara ini, menurut kepala dinas, baru tiga nama mantan gubernur yang diusulkan menjadi nama jalan.

“Sementara ini, baru nama mantan-mantan gubernur NTB yang sudah mendahului kita saja. Sambil kita menunggu beberapa ruas jalan yang masih dalam proses penyelesaian,” ujarnya.

Usulan penamaan jalan menggunakan nama – nama mantan gubernur NTB ini sudah disampaikan ke Pj. Gubernur NTB untuk di SK-kan.

“Kalau sudah turun SK-nya, tinggal kami eksekusi langsung. Rencananya tanggal 14 (Desember 2023) ini sudah bisa dipasang. Seremoninya dari jalan di GMS. Dan kami pastikan penempatan plang nama jalan tidak merusak estetika, bahkan makin cantik,” tambahnya.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button