Headline

Manisnya Tetesan Cuan dari Pohon Nira

Mataram (netlombok)-

Matahari belum menampakkan separuh sinarnya di pagi itu. Suara burung-burung bernyanyi dan ketokan ayam pun masih terdengar. Embun yang turun semalam suntuk juga masih tersisa jelas di dedaunan pohon. Dingin sisa malam juga masih terasa menyengat. Maklum saja, daerah ini tidak jauh dari kawasan taman nasional Gunung Rinjani.

Misbah, lelaki paruh baya itu bergegas turun dari rumahnya yang sederhana. Di rumah berdindingkan ulatan bambu itu Ia tinggal bersama istri dan satu putrinya yang masih duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar. Pagi itu Misbah harus segera mengambil air nira atau tuak manis (bahasa suku sasak Lombok) yang diisinya sejak sore kemarin.

”Jangan lupa sadepnya (pisau untuk mengupas dahan aren),” kata istrinya Misnah.

Hari itu, Misbah harus menyadep atau memanen air nira di beberapa pohon. Bukan milik pribadinya, melainkan milik warga di sekitar rumahnya yang tidak memiliki keahlian memanjat dan mengolah air nira. Sudah lebih dari 10 tahun, Ia menjadi penyadap air nira dikampunya, RT 03 Dusun Langko Timuq, Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Memang, tidak semua orang bisa menyadap nira. Pohonnya yang tinggi dan besar menjadi tantangan bagi siapa saja yang mencoba profesi ini. Belum lagi bagi sebagian orang, menyadap aren membutuhkan ritual khusus sesuai dengan yang diajarkan turun-temurun.

”ya ada memang caranya, lumayan sulit.” katanya.

”hati-hati banyak ranjau disini.” ujarnya menujuk kotoran sapi yang banyak ditemukan di sepanjang jalan menuju lokasi panen yang tidak jauh dari rumahnya.

Beruntung, salah satu dahan nira yang akan di panen kali ini tidak terlalu tinggi. Masih bisa dijangkau tangan orang dewasa. Suara tetesan yang keluar dari dahan aren yang dipanennya terdengar jelas. ”tluk tluk tluk.” suara tetesan air nira yang terpantul dari wadah ember kecil berukuran 2 liter. 

”alhamdulillah lumayan,” katanya.

Menurut Misbah, air nira yang dipanennya memiliki nilai jual yang tinggi karena bisa di olah menjadi gula maupun dijual secara langsung kepada penikmat air aren. Warnanya yang jernih dan kekuningan serta rasanya yang manis dan khas menjadi daya tarik tersendiri.

Satu liter air aren di jual Misbah dengan harga Rp10.000. Setiap paginya Ia bisa memanen lebih dari 10 liter. Jumlah yang sama juga akan di peroleh saat panen pada sore hari. Jika tidak habis dijual langsung, Ia harus mengubahnya menjadi gula merah. Untuk mencapai ini membutuhkan waktu proses selama 6 jam.

Bagi Misbah, hadirnya pohon aren di kampungnya menjadi berkah tersendiri. Hampir semua kebutuhan harian keluarganya diperoleh dari hasil ini. Sisanya diperoleh dari beternak sapi yang hasilnya hanya dipoerleh dalam kurun waktu lama.

”hanya ini keahlian saya, mau jadi TKI (tenaga kerja Indonesia), tapi udah ndak mampu karena usia, udah punya cucu saya.” ujarnya sambil sedikit ketawa.

Senada dikatakan Amir, tukang sadep lainnya di kampung itu. Setiap tetesan tuak manis sangat berharga baginya. Warna kuning dari setiap tetesan juga menjadi primadona, karena nilai jual lebih tinggi dibandingkan tuak manis yang berwarna putih.

”kalau kuning itu pasti manis, kalau putih ada asemnya dan tidak banyak yang suka,” kata Amir.

Memperoleh kualitas tuak manis seperti yang diharapkan petani sangat bergantung dari kondisi iklim. Kualitas akan terjaga dengan baik jika kondisi iklim yang tidak terlalu panas. Selain itu tergantung dari kondisi pohon aren, kalau dahannya besar biasanya akan menghasilkan tuak manis dalam jumlah banyak.

Permintaan tinggi akan tuak manis dan olahannya biasanya terjadi ketika perayaan hari besar keagamaan. Seperti peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan bulan suci Ramadhan. Pada momentum ini, tuak manis dihidangkan untuk minum bersama dan gula merah sebagai salah satu bahan pembuatan aneka jajanan.

Harganya juga relatif tinggi pada momentum tersebut. Menurut Amir, harga tertinggi bisa mencapai Rp15.000 perliter atau naik 50 persen dibandingkan dengan hari biasa. Tidak heran jika Amir dan petani lainnya berharap pada momentum itu banyak pohon aren yang bisa di panen.

”Harapan semua kita itu, banyak dangun (dahan aren) yang bisa sadep saat Ramadhan,” ujar Amir.

Kabupaten Lombok Barat bagian utara memang menjadi sentra produksi aren. Bahkan, Giri Madya, salah satu desa di wilayah itu bisa menghasilkan 20 ribu liter aren per hari. Jumlah yang tidak sedikit, dan menjadi pendapatan utama perekonomian masyarakat setempat.

Samiudin, Kepala Desa Giri Madya mengatakan, 70 persen warganya berprofesi sebagai tukang sadep air aren. Dia tidak menyebut secara pasti berapa penghasilan setiap petani. Berkisar antara 100 hingga 250 ribu rupiah, tergantung dari jumlah pohon aren yang di miliki.

Meski berada dipinggiran Kawasan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Barat, namun masyarakat di desa itu berkecukupan dari hasil aren. Hanya saja, sebagian air aren yang di produksi masyarakat belakangan ini di olah menjadi tuak toaq (air aren yang di permentasikan). Tuak toaq ini yang seringkali digunakan sebagai minuman keras teradisional.

”kalau hasilnya tidak diragukan lagi. Banyak keluarga yang bisa menyekolahkan putra-putrinya hanya dari hasil aren,” kata Samiudin.

Kedepan, desanya memiliki rencana besar untuk dikembangkan menjadi sentra aren berskala besar. Ia masih mencari mitra yang bisa mengolah air aren ini menjadi gula kristal, sehingga memiliki nilai tambah. Butuh teknologi tepat guna untuk membuat industrialisasi terpadu di tingkat pedesaan.

”Syukur, kita miliki emas cair di sini,” ujarnya.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button