Mataram (netlombok) –
Belakangan ini semakin banyak wisatawan asing yang menginap di hotel di Mataram. Kebanyakan adalah wisatawan asal Belanda.
Disebut-sebut, mereka datang ke Lombok tidak sekedar berlibur, menikmati keindahan alam. Justru banyak yang datang hanya sekedar untuk menelusuri kembali jejak nenek moyang mereka tempo dulu. Selama berada di Lombok.
Hal ini dikemukakan Wakil Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), I Made Agus Ariana, Senin (27/11/2023). Menurutnya, wisatawan belanda yang datang menginap di Hotel di Mataram ini sangat tertantang untuk mengenang kembali Sejarah nenek moyang mereka.
“Banyak tamu asing yang menginap di hotel di Mataram banyak banget dari Belanda. Saya selalu tanya kalau mereka menginap di hotel ini (Arianz Hotel). Jadi mereka napak tilas cerita cerita tentang sejarah tentang leluhurnya. Di Mataram mereka sempat mencari track record kakek nenek buyutnya pernah tinggal di Mataram,” ungkap
Wisatawan Belanda ini ini juga mendatangi tempat kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar Kota Mataram, seperti di Ampenan, Mayura dan Narmada di Lombok Barat, Tete Batu Lombok Timur. Mereka mencari sisa-sisa Sejarah nenek moyangnya.
“Mereka datang ke Lombok sudah bukan untuk menikmati keindahan alam saja, tetapi sejarah yang tertinggal di Mataram, Lombok. Beda sama wisatawan yang ada di Kuta atau di Gili, mereka datang emang mau menikmati alamnya kalau disitu,” tuturnya.
Menurut Agus, fenomena wisatawan ini sangat bagus jika disambut dengan mengembangkan wisata historical atau wisata sejarah. Pemerintah daerah bisa memetakan titik-titiknya dimana jejak – jejak Sejarah, dan dapat membuat monumen sesuai peninggalan sejarahnya.
Misalnya, makam Van Der Ham yang merupakan jendral dari Belanda yang pada saat itu menjajah di Mataram.
Sebagaimana diketahui, Makam Van Der Ham merupakan makam seorang Jenderal dari Belanda yang pada saat itu menjajah di Mataram, Nusa Tenggara Barat. PPH Van Ham adalah seorang Jendral dari Belanda yang datang ke Lombok pada bulan Agustus tahun 1894 dan saat ini makamnya ada di Mataram, tepatnya di pemakaman Hindu, Karang Jangkong.
Menurut sejarah, Belanda datang ke Pulau Lombok melalui pelabuhan Ampenan pada tahun 1894. Kemudian Raja Mataram yang saat itu berkuasa menolak kedatangan Belanda yang berstatus sebagai penjajah. Penolakan tersebut akhirnya menimbulkan peperangan antara kedua belah pihak. Dalam peperangan ini, Jendral Van Ham terbunuh dan untuk menghormati seorang petinggi yang gugur dalam peperangan maka jasadnya dimakamkan di pemakaman Hindu di Karang Jangkong.
Menurut Agus, makam Jenderal Van Der Ham bisa dijadikan salah satu dari destinasi wisata historical di Mataram. Ini bisa memiliki nilai jual yang bisa mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara.
Lombok juga memiliki sejumlah situs Sejarah dan benda-benda peninggalan zaman Kolonial Belanda.
“Mungkin ada baiknya Dinas Pariwisata mencari tau tentang Sejarah-sejarah Belanda di Lombok. Bisa digali informasinya. Dan jadikan itu sebagai refrensi untuk membangun destinasi wisata sejarah,” usulnya.(MDE)



