Kebaya “Jaleela” Merambah Dunia

Lombok (netlombok)-
Di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat sebuah rumah produksi kebaya dengan brand “Jaleela” sudah beberapa tahun terakhir ini sangat eksis mengembangkan desain fashion kebaya-kebaya kekinian. Pangsa pasarnya dalam negeri, hingga mancanegara.
Kebaya Jaleela rupanya sudah sukses mencuri perhatian dunia, setidaknya di negara-negara tetangga seperti Malaysia, dan Singapura. Rumah produksi Jaleela ada di Jl. Adi Sucipto No.75, Dayan Peken, Ampenan, Kota Mataram. Di Komplek gedung balroom Al-Ihsan.
Ada puluhan pekerja perempuan setiap hari memproduksi berbagai desain dan ukuran kebaya. Lalu dikirim ke berbagai daerah di Indonesia untuk memenuhi pesanan.
“Kami menyediakan kebaya ready to wear (barang jadi dan langsung pakai). Sementara ini kami tidak menerima custom (pesanan sesuai ukuran pemesan),” kata CEO Jaleela, Ilfan Rainuddin.
Sudah 1.400 jenis produk kebaya Jaleela yang dibuat. Modelnya rata-rata fashionable, kekinian. Segmen pasarnya premium. Harganya untuk atasan antara Rp700an ribu/fcs, hingga Rp900an ribu/fcs. Untuk bawahannya Rp195.000 /fcs. Komlit untuk atasan dan bawahan Rp1 jutaan.
Jaleela dirintis sejak tahun 2017 lalu. Ilfan, lulusan Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung , mantan karyawan tambang PT. Nemont Nusa Tenggara ini berduet dengan istrinya, Asbety Sasaki Puteri yang juga lulusan Teknik Arsitektur Brawijaya.
Ilfan memilih menghentikan karirnya saat peralihan PT. Newmont ke PT. Amman Mineral mengelola tambang Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat. Pesangonnya digunakan untuk memulai usaha fashion ini.
Inisiatif mengembangkan Jaleela ini karena melihat peluangnya yang sangat terbuka. Dimana, masyarakat Indonesia menjadikan kebaya sebagai kebutuhan. Tidak saja untuk non formal, pun kebaya juga jadi fashion kegiatan-kegiatan formal.
“Kami melihat permintaan kebaya sangat tinggi. Di berbagai acara, misalnya wisuda, kondangan, bahkan kantor, juga membutuhkan kebaya. Peluang ini yang kemudian kita coba garap, sampai sekarang,” katanya.
Jaleela all out dikembangkan. Konsep-konsep kebaya dirancang setiap hari. Hingga saat ini, dalam sebulan bisa terjual hingga 800 fcs. Setiap selesai desain dibuat, produksinya melibatkan konveksi-konveksi yang ada disekitarnya.
“Kami kembangkan desain kebayanya. Menjahitnya kita melibatkan vendor (konveksi) didalamnya mempekerjakan 40-an orang,” katanya.
Ditambah dengan karyawan dan penjahit-penjahitnya sebanyak 50 orang, sehingga total ada 90 orang yang yang dipekerjakan untuk memenuhi pesanan. Omzetnya juga sudah mencapai ratusan juta sebulan. Sebagaimana makna brandnya, Jaleela, adalah kemewahan. Maka, Jaleela konsisten memproduksi kebaya-kebaya berkualitas premium. Sehingga sangat diminati pasar.
Ironisnya, pasar di dalam daerah sendiri sangat kecil. Kata Ilfan, terbesar pasar kebaya Jaleela adalah luar daerah. terutama Jakarta. Selain itu, Malaysia dan Singapura adalah menjadi negara yang juga menggemari kebaya Jaleela.
“Kami jualnya melalui marketplace. Shopie Indonesia. pesanannya ke kami melalui Shopie Indonesia. sampai sekarang kami tidak menjual secara offline. Tapi dalam waktu dekat kami akan buka di LEM (Lombok Epicentrum Mall),” tambah Ilfan.
Untuk memenuhi pesanan ini. Jaleela masih membutuhkan lebih banyak lagi karyawan. Jaleela menurutnya ingin memberikan kebermanfaatan sebesar-besarnya bagi masyarakat lokal yang membutuhkan tenaga kerja. Peluangnya makin terbuka, ditengah berkembangnya trend muslim fashion di dunia. 90 persen lebih kebaya Jaleela adalah kebaya muslim (hijabers). Namun tetap memproduksi kebaya non hijab.
Kebaya Jaleela boleh dibanggakan. Kebaya-kebaya Jaleela tampil membawa nama Nusa Tenggara Barat pada ajang Indonesia Fashion Week 24 Februari 2023 di JCC, Jakarta.(DLN)



