News

NTB Berkomitmen untuk Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan

Lombok (netlombok)-

Potensi hasil tangkap gurita yang ada diperairam Nusa Tenggara Barat sangat menjanjikan. Secara nasional gurita sudah menjadi komoditi ekspor. Namun hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh nelayan. Karena tidak banyak kelompok nelayan yang fokus menangkap ikan untuk meningkatkan pendapatan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Sasi Rustandi menjelaskan bahwa berdasarkan data statistik BKIPM pada tahun 2021, gurita Indonesia telah menjadi komoditas ekspor yang signifikan yakni mencapai 22.336 metrik ton (MT) dengan tujuan pasar terbesar ke China sebanyak 3.464 MT, disusul Italia sebanyak 3.343 MT, dan Amerika Serikat mencapai 2.837 MT. Nilai tersebut berdasarkan data pada International Trade.

 “Makanya seluruh stakeholder dapat berkolaborasi dan berelaborasi dalam peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan khususnya di NTB,” Katanya

Selain komoditi gurita,Sasi juga mengingatkan kembali tentang sinergi dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan lainnya. Salah satunya adalah pengembangan udang vename. Diketahui saat ini UPTD Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) di Sekotong juga tengah mengembangkan produksi benih udang vaname, nila salin dan tiram mutiara.

“Alhamdulillah progress perkembangannya cukup bagus dan saat ini permintaan terhadap benih udang vaname dan tiram mutiara cukup tinggi,” katanya

Dislutkan NTB selaku induk yang membawahi UPTD BPBPP Sekotong, lanjut Sasi akan terus mensupport dan melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi khususnya komoditas-komoditas unggulan yang ada di perairan NTB.

Kepala Bidang P2SDP3K Hikmah Aslinasari menambahkan, salah satu bentuk suport pemerintah dalam pengelolaan kawasan konservasi dan perikanan berkelanjutan tersebut dengan menginisiasi kerjasama dengan Yayasan Bentang Laut Sunda Kecil

“Saat ini Dislutkan NTB tengah menginisiasi pembentukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang ada pada 3 wilayah NTB. Sehingga kolaborasi dalam pengelolaan kawasan konservasi dan perikanan berkelanjutan menjadi hal utama yang harus dikerjasamakan,” jelas Lina.

Lina berharap agar kedepan dapat terjalin kerjasama yang baik antara pihak Yayasan Bentang Laut Sunda Kecil dengan Dislutkan NTB khususnya dalam perbaikan dan peningkatan tata kelola kawasan konservasi yang akan dikelola melalui BLUD yang ada pada 3 wilayah.

Senada, perwakilan dari Yayasan Bentang Laut Sunda Kecil I Dewa Gde Warmadewa menyampaikan bahwa pihaknya siap untuk berkolaborasi serta mendorong agar Yayasan Bentang Laut Sunda Kecil dapat dijadikan katalisator untuk pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang lebih baik.

“Kami siap berkolaborasi dalam hal apapun selama masih dalam tupoksi serta kemampuan kami, dan kami juga terbuka untuk menerima masukan dari pihak Dislutkan NTB terkait program-program yang dapat mendukung pembangunan sektor kelautan dan perikanan di NTB,” pungkasnya. (DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button