Mataram (netlombok) –
Puluhan pengurus dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kasta mendatangi kantor Perum Bulog Wilayah NTB, Rabu (25/10/2023). Mempertanyakan, mengapa harga beras mahal di sentra pangan.Kedatangan LSM Kasta yang dikomandoi langsung Lalu Wing Haris ditemui langsung oleh Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, David Susanto dan jajaran.
Dalam kesempatan ini, Kasta mempertanyakan kegiatan operasi pasar yang dilakukan oleh Bulog selama ini dalam menangani kenaikan harga beras.Kasta menyarankan agar mekanisme pendistribusian beras tidak lagi melalui jaringan-jaringan pasarnya, melainkan langsung kepada masyarakat di desa-desa.
Sehingga masyarakat bisa membeli beras langsung ke Bulog sesuai harga pembelian yang ditetapkan pemerintah. Kasta juga meminta cadangan beras yang dimiliki Bulog dapat digunakan untuk terus menerus melakukan pengamanan harga beras ditingkat masyarakat.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, David Susanto dalam kesempatan ini menyampaikan apresiasi kepada Kasta NTB yang telah perduli dan turut melakukan control sosoial, khususnya terkait harga beras.
Dipaparkannya, persoalan harga beras saat ini tidak terjadi hanya di Nusa Tenggara Barat. Hal yang sama juga terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bahkan sejumlah negara-negara di dunia.
Harga ini kata David, dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Dimana, akibat musim kemarau berkepanjangan, produksi pangan menjadi sedikit terganggu. Sehingga mempengaruhi ketersediaannya di pasaran.
“Tapi harga beras di NTB ini termasuk berada pada urutan harga beras terendah di Indonesia. Dan stoknya tersedia di pasaran. Sehingga harga beras tetap terjangkau,” ujarnya.
Dalam melakukan pengendalian harga beras ini, lanjut David, Perum Bulog senantiasa mengguyur pasar dengan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Sejak Januari hingga saat ini, Perum Bulog NTB sudah menggelontorkan 15 ribuan ton beras yang dijual sesuai ketentuan harga pemerintah, yaitu Rp10.900/Kg sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Bulog NTB memiliki 205 jaringan pemasaran di pasar-pasar tradisional. Baik Rumah Pangan Kita (RPK), maupun toko-toko pangan untuk menjual beras SPHP. Hingga akhir tahun 2023 ini, diperkirakan 21.000 ton beras SPHP digelontorkan ke pasaran.
“Kalau tidak dilakukan operasi pasar dengan mendistribusikan beras SPHP, bisa jadi harga beras mengalami kenaikan tinggi. Operasi pasar akan terus kita lakukan sampai kapan dibutuhkan. Untuk memastikan bahwa beras di NTB tersedia di pasaran,” imbuhnya.
David juga menegaskan, NTB memiliki cadangan pangan yang cukup kuat. Stok yang dimiliki Bulog saat ini bahkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat hingga awal tahun 2024 mendatang, sampai panen kembali.
Bahkan sampai saat ini, NTB termasuk daerah satu-satunya di Indonesia yang tidak dikirimi beras impor. Karena melihat ketersediaan cadangan stoknya.(DLN)



