Headline

Pimwil  Bulog : NTB Harus Impor Beras

Mataram (netlombok)-

Gengsi Provinsi NTB menerima beras dari luar harus ditanggalkan. Provinsi lumbung pangan ini tidak dapat memenuhi kebutuhan berasnya sendiri, sehingga pilihannya harus mendatangkan beras impor.

Per Selasa (26/2/2024), beras yang ada di Bulog sebesar 4.700 ton. Sementara kebutuhan setiap bulan di dalam daerah sebesar 45.000 ton, sampai 50.000 ton. Belum termasuk untuk bantuan pangan sebanyak 643.000 penerima, atau setara dengan 600 ton lebih.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Raden Guna Dharma, di ruang kerjanya mengatakan, stok beras di dalam daerah sangat kurang. Dipengaruhi oleh cuaca ekstrem berkepanjangan pada tahun 2023 yang mempengaruhi produksi. Ditambah lagi banyaknya beras NTB yang dibawa keluar pada tahun lalu.

Mantan Kepala Bulog Papua Tengah ini mengatakan, ditengah terbatasnya produksi dan tuntutan penyaluran beras bantuan pangan dari pemerintah sebanyak 10 Kg/penerima, selama Januari-Juni 2024 (60 Kg/penerima selama enam bulan), pilihannya adalah mendatangkan beras dari luar.

Dari Jawa Timur sebanyak 45.000 ton. Sebagian sudah berjalan, dan sebanyak 23.000 ton sedang dalam perjalanan masuk ke NTB. Selain itu, Bulog NTB harus mendatangkan langsung dari negara asal impor, yaitu Thailand sebanyak 13.000 ton.

“Ada juga dari Vietnam direncanakan 12.000 ton. Tapi nanti dipastikan lagi yang dari Vietnam ini,” katanya.

Upaya mendatangkan beras dari luar negeri secara langsung ini, kata Awang, panggilan akrabnya, sudah disampaikan kepada kepala daerah, Pj. Gubernur NTB, Drs. H. Lalu. Gita Ariadi,.M.Si untuk dimaklumi. Kepala daerah merespon dengan memberi lampu hijau.

Rencananya awal Maret beras dari luar negeri ini akan masuk. Bulog NTB sudah juga berkoordinasi dengan Bea Cukai dan Balai Karantina untuk mengawal beras impor ini masuk di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

“Kenapa kita harus mendatangkan langsung dari negara asalnya. Karena NTB akan dapat PAD, dan tenaga kerja yang terserap akan lebih besar,” terangnya.

Awang menambahkan, saat ini konsentrasi presiden adalah pengendalian inflasi, dan stabilisasi harga. Dari indeks perkembangan harga saat ini, ada 4 komoditi yang harganya naik sangat signifikan. diantaranya beras, cabe rawit, minyak goreng, dan telur ayam. Kenaikan harga signifikan dimulai Januari 2024. Harga gabah ditingkat petani sudah mencapai 7.500/Kg sampai Rp8.000/Kg. jika dikonversi menjadi beras, harganya sudah mencapai Rp16.000/Kg. sehingga harga beras hingga ke tingkat konsumen cukup tinggi.

Untuk itu, Bulog melakukan langkah-langkah strategis. Menyalurkan secara tepat waktu beras bantuan pangan  yang disalurkan selama enam bulan. Beras bantuan pangan ini diharapkan akan mempengaruhi harga beras di pasaran tak mengalami lonjakan.

Selain itu, Bulog gencar melalukan operasi pasar beras menggunakan beras SPHP (Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Melalui mitra-mitranya, maupun kerjasama dengan OPD terkait. Harga berasnya sesuai ketentuan Rp10.900/Kg dalam kemasan 5 Kg atau setara harga Rp52.000/kemasan. Masyarakat diperbolehkan membeli hanya dua kemasan. Dan tidak diperbolehkan untuk diperjualbelikan kembali dengan harga pasar.

“Kalau ada mitra kita yang menjual diatas harga tersebut, lapokan. Dan tidak ada toleransi, kami hentikan sebagai mitra,” imbuhnya.

Awang menambahkan, operasi pasar dilakukan juga di depan kantor Bulog NTB setiap akhir pekan. Sabtu dan Minggu.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button