News

Januari-Februari 2023, 114 Lembar Uang Palsu Dilaporkan ke Bank Indonesia NTB

Lombok (netlombok)-

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sebanyak 114 lembar laporan uang palsu selama periode januari-februari 2023.

Jumlah tersebut menurun signifikan yakni 44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Uang palsu yang diterima KPw BI NTB berasal dari berbagai pihak, mulai dari kasus yang ditangani kepolisian, laporan perbankkan hingga aduan langsung dari masyarakat.

“tugas kami melakukan penelitian atas uang yang diragukan keasliannya,” kata Kepala Seksi Unit Impelementasi Pengelolaan Uang Rupiah, Putu Gede Pramana, kepada wartawan dikantor BI NTB, Selasa (28/3/2023).

Gede Pramana menyebutkan, secara kesulurhan uang palsu yang diterima KPw BI NTB pada tahun 2022 jauh menurun dibandingkan tahun 2021. Pada 2021, jumlah uang palsu yang ditangani sebanyak 4.470 lembar, menurun 55 persen pada 2022 menjadi 2012 lembar yang seluruhnya didominasi pecahan besar seperti 100 ribu dan 50 ribu.

Penurunan penerimaan uang palsu dari berbagai pihak tersebut diklaim karena meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memahami uang rupiah, membaiknya security uang rupiah, hingga masifnya sosialisasi yang dilakukan BI NTB kepada sejumlah kalangan.

“Dengan security pices yang digunakan uang saat ini termasuk tahun emisi baru 2022, itu sudah sangat maksimal. Dari hasil pengamatan kami tidak ada uang palsu yang menyamai security pisces itu, hanya menyerupai,” ungkap Gede.

“Justru tahun emisi 2022 itu lebih susah untuk dipalsukan, karena securitynya kuat sekali hanya menyerupai saja. Unsur-unsur pengamanannya tidak bisa disamai, lebih sudah dipalsukan,” tambahnya.

Disinggung mengenai potensi peredaran uang palsu selama Ramadhan tahun ini, Gede Pramana mengungkapkan sangat berpotensi terjadi sehingga harus diwaspada oleh masyarakat. Caranya dengan menggunakan metode 3D, dilihat, diraba dan diterawang.

“Pemalsu saya rasa ketika permintaan atau perputaran itu tinggi dimanfaatkan sama mereka, karena ketika volume peredaran uang rupiah itu tinggi potensi itu bisa saja terjadi. intinya masyarakat tetap hati-hati saja agar selalu memeriksa uang yang diterima.” tutup Gede.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button