Pendidikan

Muhammad Sohibul Akbar dan Geliat Relawan Literasi di Desa Kesik

Lombok (netlombok)-
Pandemi Covid 19 berdampak cukup signifikan pada dunia Pendidikan di Indonesia. Penerapan metode pembelajaran jarak jauh, menimbulkan berbagai macam problematika, khususnya bagi dunia pendidikan di daerah seperti halnya di Desa Kesik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Bila sebelum adanya pandemi proses pembelajaran di Kesik saja sudah memiliki problem, maka kehadiran pandemi menjadikannya semakin pelik.


Hal tersebut sangat dirasakan oleh Muhammad Sohibul Akbar, pemuda Kesik berusia 22 tahun itu memperhatikan, anak di sekitar tempat tinggalnya banyak yang tidak bisa membaca. Ada banyak faktor menjadi pemicu. Salah satunya karena kurang perhatian dari keluarga dan jarang masuk sekolah.


“Banyak anak kehilangan kesempatan belajar sehingga mereka hanya ingin bermain dan bermain,” tutur Akbar.


Ia menyebutkan, berdasarkan data, anak-anak di Desa Kesik berasal dari latar belakang keluarga yang broken home akibat pernikahan anak dengan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga mereka tidak memiliki kemampuan memadai dalam mendampingi dan mengajarkan anak-anaknya membaca.


“Kami khawatir, apabila anak-anak itu tidak bisa membaca maka ke depan mereka akan kesulitan dalam proses pembelajaran dan tertinggal dalam menjalani kehidupan, apalagi di era digitalisasi,” imbuhnya.


Kondisi tersebut tentunya sudah berlangsung lama, namun luput dari pandangan Akbar. Dia baru memahami kondisi itu di masa pandemi Covid 19. Pembatasan sosial membuat aktivitas dan mobilitas Akbar menjadi terbatas, dan dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


Selama pendemi, cerita Akbar, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain sejak pagi hingga malam. Mereka jarang terlihat melakukan kegiatan belajar jarak jauh, memegang buku atau mengerjakan tugas sekolah sebagaimana yang mestinya terjadi di saat-saat seperti itu. Begitu pula dengan orang tua mereka yang seolah tak terlalu menghiraukan kondisi anak-anak tersebut.


Akbar memahami kondisi tersebut, bahwa para orang tua mesti turun bekerja sejak pagi dan baru bisa kembali ke rumah menjelang Maghrib. Karena kesibukan mencari nafkah, anak-anak tidak dapat perhatian khususnya pendampingan dalam proses pembelajaran di rumah.


Berkaca dari persoalan tersebut, dirinya pun tergerak untuk ikut menjadi relawan literasi melalui program INOVASI NTB. Ia merasa terpanggil untuk menjadi agen perubahan dalam upaya membangun desa. Apalagi di desa banyak sekali persoalan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia.


“Jika bukan kita yang bergerak, maka siapa lagi yang mau turun mendampingi anak-anak di desa untuk belajar,” katanya.


Akbar mengisahkan perjalanan awal saat mengikuti pelatihan relawan literasi bersama INOVASI NTB. Ketika itu, ada kunjungan bersama teman pemuda, pada kegiatan literasi desa. Ia diminta untuk mengikuti kegiatan pelatihan itu.


“Saya dipanggil oleh Kepala Dusun untuk mengikuti pelatihan di balai desa bersama Fasda (Fasilitator Daerah) INOVASI dan teman-teman yang lain,” ungkapnya.


Selama beberapa hari, Akbar bersama rekan-rekan relawannya dari Desa Kesik bergabung dengan puluhan dan bahkan ratusan lainnya dari berbagai wilayah di Provinsi NTB mengikuti pembekalan keterampilan literasi yang dilakukan secara daring. Mereka dibekali dengan sejumlah materi yang bermanfaat untuk nanti ketika mereka mendampingi anak.


Setelah mengikuti pelatihan, ia semakin yakin untuk melakukan pendampingan dalam rangka meningkatkan indeks literasi anak sekolah dasar di Desa Kesik. Apalagi tantangan di masa pandemi Covid 19 menjadi dua kali lipat, ketika anak-anak tidak bisa belajar di lingkungan sekolah.


Menurutnya, ini kesempatan untuk kolaborasi, melakukan inovasi, dan berbuat lebih banyak terutama membantu proses pendampingan literasi anak. Dari situ, ia langsung terjun ke lapangan menerapkan metode literasi sesuai level kemampuan siswa yang sudah ditransfer oleh fasilitator selama pelatihan.


Melihat dampak positif dari aktivitas yang dijalankannya, bersama rekan-rekan relawan lainnya, Akbar pun mulai memperluas semangat relawan literasi dengan merekrut relawan-relawan baru. Sebab masih banyak anak yang membutuhkan pendampingan dan selama ini belum bisa mereka jangkau.


Setelah memulai proses dampingan, relawan literasi di Desa Kesik terus bertambah, sejak proses awal pendampingan ada 19 orang relawan hingga sekarang totalnya sudah 25 orang.


Meskipun program relasi bersama INOVASI sudah selesai, tetapi kegiatan pendampingan tetap dilakukan secara berkelanjutan. Bahkan sampai sekarang kata Akbar, anak-anak masih ada yang datang untuk belajar di rumahnya.


Dampak positifnya pun juga mulai dirsakan. Setelah mengikuti pendampingan, mulai ada perubahan bagi siswa dampingan, dari mulai tidak mengenal huruf, belum bisa membaca suku kata, kini mulai bisa mengeja kata, menyusun kalimat dan membuat paragraf. Bahkan, prestasi anak di sekolah juga meningkat.


“Saya sudah membuat komunitas agar program relawan literasi ini bisa terus dilakukan bahkan kami akan bekerjasama dengan pemuda di desa tetangga untuk menularkan virus relawan literasi,” tuturnya.


Akbar percaya, ketika keteladanan bisa dilakukan secara konsisten, maka dengan sendirinya orang akan mau ikut berjuang bersama, dalam hal ini baginya, untuk menuntaskan persoalan literasi di Indonesia, khususnya di NTB.(*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button