Calon Jamaah Haji NTB Banyak Idap Hipertensi dan Diabetes?
Lombok (netlombok)-
Dinas Kesehatan Provinsi NTB melalui tim yang sudah dibentuk sudah mulai melakukan pemetaan risiko Calon Jemaah Haji (CJH), terutama kepada kelompok lanjut usia (lansia) yang rentan terhadap beberapa penyakit.
Pemetaan risiko kesehatan mulai dari tingkat Puskesmas. Masing-masing CJH sudah memiliki catatan kesehatan yang menjadi pedoman bagi petugas kesehatan dalam memantau kesehatan CJH tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. H. Lalu Hamzi Fikri mengatakan sesuai dengan tagline Kementerian Agama (Kemenag) RI di musim haji tahun ini yaitu ‘ramah terhadap jemaah lansia’, maka aspek pemantauan dan pelayanan kesehatan untuk CJH lansia menjadi salah satu priortas.
“Petugas haji juga sudah mulai aware dan waspada terjadap lansia ini. Mereka perlu perhatian lebih khusus, karena risiko penyakit yang tak menular, terutama hipertensi dan diabetes mellitus. Intinya kita sudah petakan,” kata dr. H. Lalu Hamzi Fikri kepada wartawan usai pelantikan PPIH Embarkasi Lombok, Senin (15/5/2023) kemarin.
Ia mengataka, bagi CJH yang memiliki penyakit bawaan diminta agar membawa obatnya sendiri, disamping petugas kesehatan juga menyiapkan keperluan medis bagi CJH yang berisiko. Terkait hal ini, petugas kesehatan haji sudah diberikan pelatihan dan pembekalan secara intensif. Semua risiko kesehatan yang berpotensi diderita oleh CJH, baik saat di Tanah Air maupun di Tanah Suci akan menjadi atensi petugas kesehatan.
“Dokter dan perawat kita telah siapkan. Minimal dalam satu kloter itu satu orang dokter dan dua orang nakes. Yang rentan itu memang diabetes mellitus dan hipertensi, ada risiko peningkatan tekanan darah karena cuaca, stress itu yang paling tinggi kasusnya di NTB,” katanya.
Agar CJH tetap bugar di dalam menjalankan ibadah haji, ia memberi saran kepada semua jemaah agar tetap istirahat yang cukup dan mengkonumsi makanan yang bergizi selama melaksanakan ibadah haji.
Ia menerangkan, seluruh jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci, syaratnya yaitu minimal mereka sudah harus mendapatkan vaksin kedua. Ada sejumlah CJH asal NTB yang belum mendapatkan vaksin kedua, sehingga hal ini menjadi salah satu prioritas untuk dilakukan vaksinasi.
“Kita sudah koordinasi dengan KKP, yang belum vaksin nanti kita vaksin di embarkasi,” tutup dr. Fikri.(DLN)



