Pendidikan Anak Usia Dini Setelah Era Digital
Oleh: Nurdiniati, S.Pd
Sebagai orang tua yang berusia paruh baya, saya memiliki pengalaman mengasuh anak yang berbeda dengan orang tua sekarang. Tentu masing-masing memiliki tantangan tersendiri, beda zaman beda tantangan.
Zaman sekarang banyak orang tua membiarkan anak mereka bermain gawai, sembari mereka beraktivitas. Kegiatan mengasuh anak sekilas lebih sederhana dibandingkan dengan zaman dulu. Banyak yang bisa dijadikan untuk mengalahkan perhatian anak ketika rewel.
Tapi, bagi saya sebagai seorang guru di lembaga pendidikan pra sekolah (Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal) tentu ini menjadi tantangan tersendiri. Tantangannya berlipat. Karena hiburan anak di rumah masing-masing berbeda dan kalah menarik dengan aktivitas bermain di sekolah.
Pengalaman ini saya alami saat mengajar beberapa tahun terakhir. Kemampuan bersosialisasi anak yang rendah, bahasa-bahasa yang terdengar asing dan aneh, lagu-lagu yang harusnya didengar oleh orang dewasa banyak saya dengar di kelas, tidak hanya itu gerakan-gerakan berupa tarian maupun tingkah laku yang saya jarang temui dulu juga tak ketinggalan.
Rasanya pengalaman bersekolah anak sudah dicuri oleh gawai mereka. Di YouTube tontonan yang sembarangan tanpa bimbingan orang tua bisa berakibat fatal. Apalagi keseringan anak-anak diberikan memegang gawai.
Sementara itu, sebagai seorang guru tentu tak boleh menyerah dan berpangku tangan dengan keadaan tersebut. Kita harus berusaha membimbing anak dengan segala tantangannya.
Saya menilai, secara kognitif maupun psikomotorik anak telah berkembang secara mandiri. Antusias mereka dan kreativitas guru menentukan keberhasilan proses pembelajaran di kelas.
Untuk menjaga hal tersebut inovasi pembelajaran harus dilakukan. Hadirnya kurikulum merdeka di seluruh jenjang pendidikan bisa menjadi peluang supaya pembelajaran tidak kaku dan monoton.
Desain pembelajaran di RPPH (Rencana Pengembangan Pembelajaran Haria) misalnya bisa lebih fleksibel dan tidak kaku, selain itu tuntutan fasilitas dalam pelaksanaan pembelajaran tak kalah diperlukan.
Tapi, komunikasi dengan orang tua siswa juga bisa dijadikan sarana untuk berkomunikasi dan berkoodinasi dengan tujuan membina dan membimbing anak tidak hanya di sekolah tapi juga dirumah.(MDE)



