News

Sejarah Eks Bandara Selaparang, Lokasi MXGP Lombok

Lombok (netlombok)-

Nama eks Bandara Selaparang hidup lagi, setalah dijadikan lokasi ajang balap motor cross bergengsi dunia, MXGP Lombok pada tanggal 1-2 Juli 2023. Sejak September 2011, pasca bandara Internasional Lombok di Praya Lombok Tengah dioperasikan, praktis, eks Bandara Selaparang tidak lagi digunakan aktif untuk kegiatan penerbangan.

Puluhan ribu orang tumpah ke bandara lama Lombok ini untuk menyaksikan para rider dunia memacu kuda besinya saat seri berlangsung. Sirkuit MXGP Lombok memiliki panjang 1.600 meter dan didesain dengan 12 rintangan, 16 tikungan, serta beberapa area jumping. Sirkuit ini terbentang di atas landas pacu eks-Bandara Selaparang dengan view Gunung Rinjani. Dengan pemandangan sirkuit yang indah dan lokasi yang mudah dijangkau karena berada di tengah Kota Mataram

Lalu setelah selesai MXGP, eks Bandara Selaparang mau diapakan?

Arif Haryanto, Stakeholder Relation Manager Bandara Lombok, Senin (3/7/2023) kemarin menjelaskan, Pemerintah Provinsi NTB menetapkan eks-Bandara Selaparang milik PT Angkasa Pura I sebagai lokasi sirkuit MXGP Lombok 2023.

Kerja sama kedua pihak ini dilakukan sebagai upaya kolaboratif dan sinergis untuk memaksimalkan keberadaan lahan eks-Bandara Selaparang dalam ikut memajukan pertumbuhan ekonomi serta mendukung pengembangan Provinsi NTB sebagai destinasi sport tourism kelas dunia, khususnya motor sport.

Sebagaimana tertuang dalam perjanjian Kerjasama antara Angkasa Pura I dengan Pemprov NTB, pemanfaatan eks Bandara Selaparang hanya satu tahun sejak Kerjasama disepakati. Dan dapat diperpanjang.

“Itupun tergantung nanti, karena sudah mulai momentum politik. Kita ndak tau, bagaimana kepala daerahnya, bagaimana Menteri terkait nanti. Kerjasama pemanfaatan asset ini tergantung kebijakan masing-masing pimpinan,” imbuhnya.

Namun Arif mengatakan, sayang, jika eks Bandara Selaparang tidak dimanfaatkan kembali pasca MXGP. Pemprov NTB bisa mengoptimalkan kembali pemanfaatannya, hingga Kerjasama pemanfaatan asset ini selesai.

“Kan sayang itu, tergantung Pemprov NTB. Katanya IMI (Ikatan Motor Indonesia) mau bikin acara juga disitu,” imbuhnya.

Arif menambahkan, sebagai pemilik asset, eks Bandara Selaparang statusnya dipinjamkan ke Pemprov NTB. Sementara ini Angkasa Pura I sendiri belum punya rencana untuk pemanfaatan kembali asset tersebut.

Angkasa Pura I sebenarnya tengah mencari investor yang dapat mengelola eks bandara di Kota Mataram ini dalam jangka panjang.

“Kalau ada pihak lain yang bisa kembangkan eks bandara ini untuk MICE (meetings, incentives, conventions and exhibitions) yang lebih besar, silakan saja. Untuk kegiatan penerbangan statusnya bukan lagi bandara, sertifikat banda udaranya sudah dicabut,” imbuhnya.

Eks bandara Selaparang memiliki luasan keseluruhan 67 hektar. Untuk pemanfaatan Sirkuit MXGP hanya memakan lahan 7 hektar. Sisanya masih sangat luas yang belum dimanfaatkan. Disadur dari wikipedia, Pangkalan TNI Angkatan Udara Rembiga hadir di Nusa Tenggara Barat pada tahun 1959. Awal perkembangannya merupakan suatu Detasemen Perwakilan dari Kodau IV Surabaya, dan merupakan salah satu satuan pendukung operasi udara di wilayah Indonesia Bagian Timur.

Lapangan terbang yang berada di Rembiga pada waktu itu berstatus milik sipil, dan baru pada bulan Mei 1959 diresmikan menjadi Bandara Selaparang oleh Perusahaan Angkasa Pura. Bandara Selaparang berada pada koordinat 08035’5”S – 116005’08”E, dengan dimensi panjang landasan 2100 x 40 m, elevasi 16 m, dan runway azimuth 09-27.

Dua tahun setelah diresmikannya Bandara Selaparang, tepatnya pada tanggal 12 Agustus 1961 Detasemen Rembiga ditingkatkan statusnya menjadi Pangkalan TNI Angkatan Udara Rembiga yang bermarkas di jalan Adisutjipto Rembiga, dengan luas tanah 60.025 m2 serta Base ops yang berada di Bandara Selaparang dengan luas 5.000 m2.

Berdasarkan Surat Keputusan Pangkoopsau II Makassar Nomor: Skep/05/III/1986 tanggal 27 Maret 1986, Pangkalan TNI AU Rembiga merupakan Lanud Type “C” yang berada di bawah operasional Koopsau II Makassar. Nama Lanud Rembiga ini disesuaikan dengan posisi Pangkalan tersebut yang terletak di desa Rembiga yaitu suatu desa di Mataram Pulau Lombok atau yang dikenal dengan sebutan Bumi GORA/Pulau Seribu Mesjid.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button