Headline

Pantes Ramai Odong-odong, Ternyata Segini Pendapatannya

Mataram (netlombok)-

Odong-odong mulai banyak dijumpai di jalan-jalan raya. alat transportasi hiburan ini jumlahnya diperkirakan sudah mencapai puluhan di Kota Mataram saja.

Lantas apa itu odong-odong, dan seperti apa gambaran pendapatannya?

Odong-odong adalah kendaraan modifikasi, yang banyak kita jumpai bisa kendaraan roda 2, kendaraan roda 3, dan kendaraan roda 4. Kendaraan roda 2, dan kendaraan roda 3, oleh pemilik, bodinya dimodifikasi menjadi bodi kendaraan roda 4.

Modifikasinyapun lucu-lucu, ditambah aksesoris lampu kerlap kerlip. Di malam hari, odong-odong ini terlihat sangar menarik. Aneka warna lampu-lampunya sangat mencuri perhatian. Apalagi anak-anak. Bodi odong-odong ini juga dicat warna-warni. Ada juga yang digambar dengan aneka karakter lucu-lucu. Belum lagi yang khas pada odong-odong ini adalah penambahan audio.

Saat sedang berjalan, dari odong-odong ini biasanya akan terdengar suara music. Lagunya bisa lagu anak-anak, lagu dangdut, bahkan lagu-lagu daerah. Ada juga yang menempatkan tipi di depannya. Jadilah odong-odong sebagai transportasi, tempat menikmati lagu, baik audio maupun visual. Juga sekaligus sebagai transportasi wisata di jalan raya.

Menaiki odong-odong memang menghibur. Apalagi membawa anak-anak. Ongkosnya juga murah. Kisaran Rp5 ribu, sampai Rp10 ribu, Sudah bisa menghibur anak, tergantung rutenya.

Media ini sempat menjajal salah satu odong-odong yang mangkal di depan Asrama Haji NTB di Lingkar Selatan, Kota Mataram. Momennya tengah musim pemulangan haji. Penjemput haji biasanya datang dari berbagai penjuru berbondong-bondong menunggu keluarga, kolega, dan handai taulan mereka yang baru pulang dari tanah suci.

Keramaian inilah yang dimanfaatkan oleh beberapa odong-odong dari Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, bahkan dari Kabupaten Lombok Timur.

Salah seorong pemilik odong-odong dari Kabupaten Lombok Timur mengaku, datang jauh-jauh dari jarak puluhan kilometer ke Asrama Haji untuk mencari penumpang. Saat pemberangkatan haji, ia bahkan setiap malam lebih dari dua minggu standby di depan Asrama Haji.

“Saya dari Selong, kesini memang untuk mencari penumpang odong-odong. Lagi ramai,” katanya.

Dalam semalam, ia bisa mendapatkan ratusan ribu. Odong-odong miliknya adalah kendaraan roda empat yang sudah dimodifikasi cantik. Muatannya bisa belasan orang, bahkan bisa lebih dari 20 orang, kalau dicampur anak-anak.

Padahal, ukuran kendaraan angkutan umum normal, maksimal 11 orang bisa masuk. Pemilik odong-odong ini mengatakan, selesai musim haji ia kembali beroperasi di wilayah Selong, Lombok Timur.

Salah satu pemilik odong-odong lainnya datang dari Lombok Barat. Mangkal di depan asrama haji NTB, memanfaatkan keramaian.

Menurutnya, usaha odong-odong ini lumayan menggiurkan. Ketimbang angkutan-angkutan umum lain yang sudah memiliki trayek tetap.

“Kalau ramai, semalam bisa dapat Rp800 ribu,” akunya.

Pemilik odong-odong ini adalah seorang bengkel. Ia bersama satu rekannya, tukang las. Kendaraan roda empat tahun 1988 dimodifikasinya, dipercantik, dihias menjadi odong-odong. Tempat duduk penumpang dimodifikasinya empat baris dengan jok warna – warni. Demikian juga lampu-lampu hiasannya. Disamping stir sudah ada perangkat audio yang tetap siap menghibur para penumpangnya.

Pemilik ini mengaku, diluar harga kendaraannya, ia menghabiskan Rp30-an juta untuk modifikasi. Investasi sebesar itu masih sebanding dengan pendapatannya saat ini. Odong-odong ini menurutnya bisa saja dibeli, dipesan di Jawa. Terima jadi. Kisaran harganya Rp90 juta. Sudah banyak yang pesan terima ditempat. Tapi menurutnya lebih baik modifikasi sendiri. Agar sesuai selera.

Setiap malam ia beroperasi di Kota Mataram. Targetnya adalah komplekk-komplek perumahan, dan pusat-pusat keramaian. Se sepi-sepinya, ia bisa mendapatkan Rp150.000 sehari. Bisa juga smapai Rp400 ribu, Rp500 ribu, bahkan hampir Rp1 juta.

Jumlah odong-odong saat ini menurutnya sampai 40-an. Terbanyak di Kota Mataram. Jumlah ini semakin banyak karena tingginya permintaan.

Odong-odong ini juga beroperasi di siang hari. Selain ia keliling membawa penumpang, odong-odong ini juga bisa di carter. Tarifnya rata-rata Rp250 ribu, rutenya tergantung pesanan.

“Saya juga pernah bawa pesanan ke Pantai Cemara, kenanya Rp400 ribu. Kesana ngantar, dan pulang. Tidak sampai sehari,” katanya.

Banyaknya odong-odong ini juga karena masih longgarnya aturan. Menurutnya, mereka beroperasi juga dilihat aparat. Baik Kepolisian, maupun Perhubungan. Karena belum pernah ada odong-odong yang ditangkap, sehingga tak terlalu dikhawatirkan.

“yang penting ada surat-surat kendaraannya saja. Saya juga ada surat kendaraannya. Mau majak ini kendaraan tua (tidak dipajak rutin),” ujarnya.

Sejauh ini odong-odong juga bebas beroperasi kemanapun. Tanpa trayek tetap. Rutenya tergantung pesanan penumpang. Atau yang carter.

Odong-odong ini awalnya berkembang di Jawa. Sekarang sudah merambah ke Lombok. Saat ini sudah diinisiasi pembentukan asosiasinya untuk memudahkan koordinasi.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button