Hikmah Dibalik Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Mataram (netlombok)
Peringatan Maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 29 september 2023. Hari kelahiran baginda Rasulullah ini disambut sukacita oleh umat islam termasuk di Lombok Nusa Tenggara Barat.
Di Lombok, peringatan maulid nabi muhammad diperingati hampir 3 pekan atau sejak tanggal 12 rabiul awal hingga akhir bulan. Kondisi ini menggambarkan ekspresi cinta masyarakat muslim di Lombok dalam mengisi bulan kelahiran Rasulullah SAW.
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Ahmad Zainuri mengatakan, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat dan nikmat yang sangat besar dari Allah SWT kepada semua orang. Bukan hanya kepada umat islam tetapi juga kepada seluruh alam.
”Karena itu disampaikan dalam Al Qur’an surah Al Anbiya ayat 107 disebutkan bahwa kami tidak mengirim engkau nabi muhammad kecuali itu sebagai rahmat bagi semua alam. Karena itu alam yang dimaksud adalah seluruh yang ada dalam kehidupan ini. Semua isi alam ini merasakan kesenangan dan kegembiraan atas kelahiran rasulullah SAW,” jelasnya.
Untuk itu, kata Zainuri berbahagia dan menunjukkan kecintaan itu merupakan suatu keharusan, karena rahmat yang diturunkan oleh Allah kepada siapapun maka harus ditunjukkan dengan kebahagiaan.
”Walaupun dalam tafsirnya disebutkan fadhlullah itu Islam dan rahmat Allah itu Al Qur’an, maka kita tidak akan mengetahui islam dan Al Qur’an tanpa kelahiran Rasulullah SAW, tentu euforia atau ekspresi kebahagiaan itu tentu sangat dianjurkan bagi kita umat islam,” tambahnya.
Disinggung mengenai ekspresi bahagia yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, TGH HL. Ahmad Zainuri menjelaskan bahwa ekspresi kebahagiaan itu bersifat alamaiah dan fitrah. Artinya ekspresi bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Apalagi tidak ada batasan dalam menentukan kebahagiaan itu sendiri.
”Mengekspresikan rasa senang bisa dengan apapun jua, dulu dizaman quraish anak yang lahir diekspresikan dengan memberi makan kerabat atau tentangganya. Maka apa yang dilakukan masyarakat kita dilombok seperti kajian, membaca siroh dan berbagi dengan memberikan dulang (makanan) bagian dari ekspresi dari kebahagiaan dan itu sangat maulid,” ungkap Zainuri.
”Di mesir saja kalau setiap bulan maulid ada diantara mereka secara khusus membuat kue maulid, ditunjukkan dengan bentuknya yang unik, khusus dan itu dibagi dengan tetangga dan sanak famili, seperti kita ada yang berzanji dan lain-lain. Di kita ada nasi rosul, dari mana datangnya nasi rasul ya itulah bentuk kebahagiaan,” katanya.
Allah Ringankan Azab Orang Kafir yang Bahagia dengan Kelahiran Rasulullah SAW
TGH Zainuri mengingatkan tentang hikmah yang besar dibalik memperingati kelahiran Rasulullah SAW terutama dengan cara mengekspresikan kebahagiaan. Perlu diingat bahwa mengespresikan kebahagiaan dan kecintaan kepada rasulullah merupakan suatu kewajiban setiap umat islam.
”Kenapa? Karena orang yang paling cinta kepada kita adalah Rasulullah SAW. Sehingga misalnya mengepresikan kebahagiaan dengan kelahiran idola kita adalah suatu keharusan. Dalam suatu riwayat, Abu Lahab yang begitu benci kepada beliau, tetapi ketika mendengar kelahiran Rasulullah SAW disampaikan beritanya oleh budaknya Su’aibah beliau menujukkan kebahagiaanya,” jelas TGH Zainuri.
”Sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan Abu Lahab dia memerdekakan budaknya yang namanya Su’aibah dan ternyata setelah beliau meninggal, saudara kandungnya yang bernama AL Abbas bin Abdul Mutthalib bermimpi, ternyata dalam mimpi itu dia bertanya apa yang kamu alami ya Abu Lahab, ternyata Abu Lahab menjawab semenjak saya meninggal dunia disitulah azab yang dijanjikan Allah SWT, namun ketika datang hari senin ”khuffifa’anil’azab” azab itu diringankan oleh Allah,” tambah Zainuri.
Menurutnya, riwayat tersebut menggambarkan tentang ekspresi senang seorang Abu Lahab atas kelahiran Rasulullah SAW sudah mampu meringankan azabnya saat didalam kubur.
”Logikanya, kalau orang kafir saja, orang yang anti kepada baginda nabi ini kata para ulama, sekali dia gembira karena kelahiran nabi diringankan azabnya oleh Allah, bagaimana dengan umat yang setiap tahun, setiap hari dia menunjukkan kebahagiaan itu dengan lahirnya nabi dan mati dalam keadaan islam, apa iya dia tidak diselamatkan oleh baginda Nabi,” tutup TGH Lalu Ahmad Zainuri.(MDE)



