Ini Penyebab Maraknya Kasus Bullying Menurut LPA
Mataram (netlombok)-
Kasus bullying atau perundungan di lingkungan sekolah masih sering terjadi, bahkan baru-baru ini seorang santri disalah satu pondok pesantren di Kediri meninggal dunia karena menjadi korban bullying. Ada juga beberapa kasus bullying lainnya yang terjadi lingkungan sekolah. Salah satu penyebab anak melakukan bullying atau perundungan karena ingin mendapat pengakuan dari teman-temannya sekolah maupun lingkungan sekitar.
Koordinator Bidang Hukum dan Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Joko Jumadi mengakui bahwa kasus-kasus bullying cukup banyak terjadi di lingkungan sekolah. Bullying terjadi, salah satunya karena tingkat kepercayaan diri anak rendah sehingga penanganannya harus komprehensif, dengan melibatkan orangtua dan pihak sekolah. Mengingat penanganannya selama ini hanya diselesaikan di lingkungan sekolah saja. Padahal, kondisi tersebut meninggalkan trauma bagi korban.
“Saat ini sudah mulai dibuat tim pencegahan dan penanganan kekerasan di tingkat sekolah sebagai mandat dari permendikbud (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) no 46 tahun 2023 yang salah satunya untuk penanganan bekerjasama dengan lembaga layanan lain,” ujar Joko Jumadi, saat dihubungi, Rabu (28/2/2024).
Saat ini beberapa sekolah sudah bekerjasama dengan LPA dalam menangani kasus, termasuk kasus bullying. Adanya tim penanganan kekerasan di tingkat belum ada kelihatan ditemukannya kasus bullying, terutama di NTB. “Masih belum kelihatan karena baru mulai,” ucapnya.
Joko menilai, pengawasan dari orangtua juga harus dilakukan. Agar anaknya tidak menjadi korban maupun pelaku dari kasus bullying. Pasalnya kasus bullying memberikan dampak cukup besar, terutama bagi korbannya. Dimana meninggalkan rasa trauma bagi korbannya.
“Meningkatkan kepercayaan diri anak, anak yang menjadi korban bullying sebagian besar adalah anak yang kepercayaan dirinya rendah. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pengasuhan dan lingkungan yang tidak kondusif,” terangnya.
Kemudian, anak yang bisa menjadi pelaku perundungan ada juga pengaruh dari lingkungan sekitar mereka. Untuk itu, perlunya ada pengawasan bagaimana lingkungan sekitar anak- anak bergaul ataupun bermain.
“Anak yang melakukan perundungan adalah anak yang biasanya ingin diakui oleh lingkungannya,” katanya.
Bahkan beberapa kasus yang menjadi pelaku ini adalah anak yang menjadi korban bullying di lingkungannya atau merasa tidak diperhatikan di lingkungan. Sehingga ingin menunjukan eksistensinya di tempat lain dengan melakukan bullying.
“Yang harus dilakukan adalah memperbaiki pola pengasuhan baik di rumah maupun di sekolah,” demikian. (Myg)



