
Netlombok – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah sepakat memperkuat sinergi dalam pengembangan industri agromaritim berbasis komoditas unggulan daerah. Kesepakatan itu mengemuka dalam audiensi yang digelar di Ruang Rapat Bupati Lombok Tengah, Selasa (9/9/2025).
Audiensi dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Perindustrian NTB, Hj. Nuryanti, SE., ME., yang hadir bersama Plt. Kabid Pengembangan Sumber Daya Industri (PSDI) serta tim teknis. Sementara dari pihak Pemkab Lombok Tengah, hadir Bupati H. Lalu Pathul Bahri, S.IP., didampingi Kepala Bappeda, Kadis Koperindag, Kepala Dinas Perikanan, Sekretaris Disperindag, hingga Kabid Industri Disperindag Lombok Tengah.
Pertemuan tersebut membahas pemanfaatan sentra industri yang telah dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perindustrian, khususnya Sentra Walet dan Sentra Tepung Tapioka. Selain itu, pembahasan juga menyinggung pengembangan kerajinan ketak, hingga strategi memperkuat ekosistem industri berbasis komoditas unggulan.
Dalam sambutannya, Bupati Lombok Tengah menekankan pentingnya kerja kolektif lintas sektor. Menurutnya, Lombok Tengah memiliki potensi besar untuk menjadi penyangga pangan nasional dengan luas lahan basah yang mencapai lebih dari 50 ribu hektar.
“Perjuangan ini adalah kerja bersama. Kita memberikan pelayanan terbaik dan memiliki keyakinan untuk kemaslahatan masyarakat Lombok Tengah. Kami menyambut baik sinergi ini dan akan menindaklanjutinya bersama OPD terkait agar berjalan optimal,” tegas Pathul Bahri.
Ia juga menambahkan, Lombok Tengah siap berkontribusi terhadap visi besar NTB “Makmur Mendunia” yang dicanangkan Gubernur. Caranya, dengan mengoptimalkan sumber daya lokal dan membangun kemandirian pangan serta industri berbasis potensi daerah.
Sementara itu, Kadis Perindustrian NTB Hj. Nuryanti menegaskan bahwa program agromaritim menjadi prioritas Gubernur. Menurutnya, keberadaan sentra industri seperti sarang burung walet dan tepung tapioka harus segera dioperasikan karena memiliki nilai ekonomi tinggi, termasuk potensi ekspor.
“Kami mohon arahan Bapak Bupati agar dua sentra ini bisa segera beroperasi. Untuk tahap awal, kami akan mendampingi pengelolaan sentra, baik melalui UPT maupun bentuk lainnya, sehingga SDM siap menjalankannya. Harapan kami, sinergi ini bisa dituangkan dalam bentuk MoU agar lebih kuat ke depan,” ujar Nuryanti.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pembangunan industri agromaritim, kata dia, harus menyeluruh dari hulu hingga hilir, sehingga mampu menghadirkan industri pengolahan yang memberi nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja baru.
Pertemuan ini menjadi momentum awal untuk membangun ekosistem industri agromaritim yang lebih terintegrasi di Lombok Tengah. Dengan dukungan pemerintah daerah, OPD teknis, serta para pelaku usaha, diharapkan industri berbasis komoditas unggulan seperti walet, tapioka, hingga kerajinan mampu berkembang lebih jauh.
Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan daya saing produk lokal NTB, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong industrialisasi berbasis potensi daerah. Target akhirnya, NTB tidak hanya menjadi lumbung pangan, tetapi juga pusat industri agromaritim yang mampu menembus pasar ekspor.



