News

Peternak Unggas Mengadu ke DPRD NTB

Lombok (netlombok)-

Para peternak ayam boiler mengeluhkan harga jual ayam yang anjlok, karena biaya produksi lebih besar dibandingkan dengan harga jual ternak. Akibatnya banyak perternak terpaksa gulung tikar.

Salah satunya yang dialami peternak ayam di Lombok Barat Nengah Suriyatni yang notabenenya bukan peternak mitra (murni peternakan mandiri). Dengan populasi hewan ternak ayam antara 100 ekor hingga 4.000 ekor.

“Boiler ini memang sangat memprihatikan sekali. Sudah berapa tahun ini kita amati, tidak pernah menguntungkan perternak mandiri. Sementara pakan naik terus, DOC mahal, harusnya harga standar itu Rp20.000 perkilo, tapi sekarang harga anjlok Rp10.000 perkilo hidup,” kata Nengah Suriyatni, usai aksi demo di depan DPRD NTB, Kamis (9/3/2023).

Sementara 1 ekor menghabiskan 3 Kg pakan, harga pakan saat ini saja berkisaran Rp500.000 / zak. Harga DOC juga mengalami kenaikan, dari rata-rata harga normal Rp7.000 – 8.000. Kondisi ini disebut tidak sebanding dengan biaya produksi peternak.

“Pokoknya kalau harga Rp20.000 baru kita balik modal. Belum lagi kita menghitung untung, sekarang ini harga jebol sampai Rp10.000 – 12.000 perkilogram. Kita kehilangan Rp8.000-10.000 perkilo, kali berapa tonase panen ayam kita,” bebernya.

Pembengkakan biaya pakan terus menerus, apalagi jika ayamnya tidak terjual. Saat ini banyak perusahaan yang melakukan penyetokan ayam dan menumpuk.

Bahkan Meraka harus menjual ayam keluar daerah untuk mengurangi stok di dalam daerah. Sehingga makin sulit bagi peternak-peternak mandiri.

“Apalagi kalau tidak terserap harga akan hancur lagi,” katanya.

Maka dari itu, sejumlah peternak ayam mandiri melakukan aksi demo di depan gedung DPRD NTB, menuntut beberapa poin dan keberpihakan dari wakil rakyat di NTB kepada peternak kecil dan anjloknya harga.

“Itu kenapa kita sampai melakukan aksi demo ini. Sudah berapa kali disampaikan ke pemerintah, mudah-mudahan ini bisa didengar,” imbuhnya.

Anjloknya harga ayam ini sudah terjadi sejak 2 tahun terakhir. Hanya saja kondisi terparah di 6 bulan terakhir ini harga sangat tidak stabil.

Nengah menyebutkan, peternak-peternak mandiri binannya yang bermitra dengannya saat ini hanya tersisa 2 orang yang bertahan, dari ratusan mitra binaannya. Yang lainnya juga banyak gulung tikar.

“Ada yang ambil alternatif lain ke kemitraan lain, ada juga yang tidak bisa beternak lagi gara-gara kandang oven, tidak bisa masuk perusahaan. Karena perusahaan standarnya rata rata CH (Close house) sementara kita kadangnya oven,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Pelaksana Masa Aksi Muhammad Zaini mengatakan peternakan ayam lokal NTB menghadapi situasi sulit, karena banyaknya perusahaan raksasa yang masuk ke pasar tradisional.

Hal tersebut berdampak pada harga jual ayam anjlok dan tidak sebanding dengan modal produksi dikeluarkan peternak.

“Kondisi peternak ayam di NTB sangat tertekan dan memprihatinkan, penjualan bukannya untung tapi merugi. Harga ayam hari ini di Lombok sekitar Rp12 ribu perkg (ayam hidup),” ujarnya.

Adanya perusahaan besar ini, peternak ayam dipastikan kalah bersaing. Maka dari itu pihaknya menuntut DPRD untuk 4 poin yang ada.

Poin-poin yang dituntut, pertama adanya stabilisasi harga serta penetapan harga ayam boiler, kedua meminta pemerintah atau DPRD NTB mengusir perusahaan luar yang ada di NTB, ketiga pemerintah harus menciptakan iklim usaha unggas yang kondusif dan berpihak kepada peternak lokal.

Keempat, pemerintah harus membuat peraturan daerah tata kelola hulu usaha peternakan. Kedatangan para peternak unggas ini ditemui Abdul Rauf, Wakil Ketua Komisi II DPRD NTB.(DLN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button