Warga Sade Mengais Puing Kebakaran, Berharap Harta yang Hilang Kembali

NETLOMBOK- Sejumlah warga Adat Sasak Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, mulai membersihkan sisa-sisa kebakaran yang melanda permukiman mereka. Di antara puing bangunan yang hangus, warga masih mengais dan memilah barang untuk mencari harta benda yang mungkin tersisa dari amukan api.
Puing kayu, alang-alang, perabotan, hingga material bangunan yang terbakar dikumpulkan dan diperiksa satu per satu. Harapan mereka sederhana: menemukan kembali sebagian barang berharga yang sempat tertinggal ketika kebakaran terjadi.
Bagi warga, kehilangan bukan hanya soal bangunan. Uang, perhiasan, barang dagangan, dan benda-benda yang memiliki nilai ekonomi ikut musnah dalam waktu singkat.
Salah seorang korban, Inaq Pernama, mengaku tidak sempat menyelamatkan harta benda dari rumahnya. Saat kebakaran terjadi, kondisi keluarganya membuat proses evakuasi berlangsung terbatas.
“Ibu saya sudah tua, pernah stroke juga, jadi jalannya enggak bisa cepat. Kebetulan waktu itu beliau lagi belanja di Alfamart,” ujar Inaq Pernama, Senin (24/8).
Saat kejadian, sejumlah anggota keluarga lainnya juga berada di luar rumah. Di dalam bangunan hanya terdapat tiga anak yang kemudian berhasil dievakuasi.
“Yang tinggal di sini anak-anak, ada tiga. Anak saya sama anak adik saya. Dua itu yang ditarik keluar,” katanya.
Karena situasi berlangsung cepat, hampir tidak ada barang yang berhasil dibawa keluar. Uang dan perhiasan keluarga ikut tertinggal di dalam rumah.
“Enggak ada, cuma yang ada di badan aja yang bisa. Uang, perhiasan, enggak ada,” tutur Inaq.
Beberapa barang berharga yang hilang di antaranya cincin milik ibunya, kalung dan cincin milik anak, serta uang milik adiknya. Selain itu, terdapat pula barang dagangan yang sebelumnya disimpan di rumah tersebut.
Menurut Inaq, rumahnya juga menjadi tempat berkumpulnya barang dagangan karena keluarga turut memasok kebutuhan untuk aktivitas jual beli warga.
“Barang dagangan paling banyak di sini. Kebetulan ibu kan penyetor, jadi kita ngumpul barang di sini,” ujarnya.
Nilai kerugian akibat hilangnya emas dan uang belum dapat dipastikan. Inaq mengaku tidak mengetahui secara pasti berat perhiasan yang ikut terbakar.
“Nah, kurang tahu juga saya berapa gramnya. Isi adik saya juga enggak tahu,” katanya.
Meski begitu, upaya mencari sisa barang berharga tetap dilakukan. Warga menemukan material berwarna putih yang diduga merupakan bagian dari benda yang sebelumnya tersimpan di dalam rumah.
“Kemarin ada ketemu, tapi warnanya putih-putih. Kita kumpulin di situ, di lemari,” ucapnya.
Untuk uang tunai, sebagian diketahui merupakan uang arisan yang sedang dipegang oleh adiknya. Ada pula uang hasil penjualan yang disimpan di gerobak. Jumlah keseluruhannya belum diketahui secara pasti.
Setelah kehilangan tempat tinggal, keluarga Inaq Pernama sementara mengungsi di rumah adiknya yang berada di belakang kawasan permukiman.
Belum ada rencana untuk kembali menempati lokasi tersebut sebelum rumah dibangun kembali. Menurut Inaq, keluarga baru akan kembali setelah tersedia tempat yang dianggap layak untuk ditinggali.
Namun, persoalan membangun kembali rumah di kawasan adat tidak sederhana. Warga tidak serta-merta ingin mengubah bangunan tradisional menjadi rumah permanen karena kawasan Sade juga menjadi bagian dari destinasi wisata budaya.
“Kalau mau dibuat permanen, kemungkinan untuk jadi objek wisata kan enggak bisa,” katanya.
Karena itu, rencana pembangunan kembali rumah kemungkinan tetap mempertahankan karakter bangunan tradisional dengan penggunaan alang-alang sebagaimana bentuk sebelumnya.
Di tengah puing dan kehilangan, warga kini menghadapi dua kebutuhan sekaligus: memulihkan tempat tinggal dan mempertahankan sumber penghidupan.
Bagi keluarga Inaq, rumah bukan sekadar tempat berlindung. Bangunan tersebut juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi melalui kegiatan jual beli yang selama ini menopang kehidupan keluarga.
Pembersihan puing pun menjadi langkah awal untuk bangkit. Di sela-sela pekerjaan tersebut, warga masih berharap ada benda berharga yang dapat ditemukan dan diselamatkan dari sisa kebakaran.
Api mungkin telah menghanguskan rumah dan harta benda. Namun, bagi warga Sade, membersihkan puing menjadi awal untuk kembali menata kehidupan sekaligus mempertahankan tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas kampung adat tersebut.



